<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197</id><updated>2011-11-05T18:43:56.274-07:00</updated><title type='text'>kebun siwalan</title><subtitle type='html'>menciptakan dunia lebih indah untuk hidup dan penghidupan dengan ridloNya (Dian Kusumanto)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-3966267067077284500</id><published>2011-05-09T02:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T02:46:57.545-07:00</updated><title type='text'>Menengok Industri Gula Rumahan di Sulawesi selatan</title><content type='html'>Menengok Industri Gula Rumahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Balandangan Jeneponto tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata yang menyajikan keindahan alam yang mempesona. Di tempat ini juga dikenal sebagai sentra pembuatan gula merah pohon lontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan hektar pohon lontar yang menjadi bahan baku utama, terbentang jauh sepanjang mata memandang, menghiasi pantai-pantai dan bukit-bukit nan eksotik di Jeneponto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dg. Tiro, bapak kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai pembuat gula merah yang menggeluti usaha pembuatan gula merah dari pohon lontara. Sudah sejak lama ia bersama perajin lainnya cukup berhasil memproduksi gula-gula merah berkualitas yang siap dikonsumsi masyarakat sekitar Jeneponto, Sulawesi Selatan dan wilayah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sadapan nira dari pohon lontara, tercipta gula merah yang memiliki cita rasa khas. Beratus biji hingga beribu biji gula merah itu setiap harinya di hasilkan oleh Dg. Tiro dan rekan-rekan sesama perajin lainnya di Ujung Genteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dg. Tiro, gula merah yang dihasilkan pohon lontara (lokal: Tala') memiliki cita rasa yang khas. Tak jarang banyak masyarakat yang berminat untuk memakainya. Selain bentuk potongan yang lebih besar dari gula kebanyakan, gula merah pohon lontara relatif lebih murah. Selain itu, nira dari pohon lontara bisa setiap hari disadap tanpa perlu khawatir kehabisan pasokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu lokasi kawasan pembuatan gula merah pohon lontara, terdapat 10 sampai 30 perajin pembuat gula. Biasanya dalam satu kawasan tersebut ada satu pengelola yang memiliki modal lahan dan perkebunan lontara yang disebut sebagai si mandoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perajin ini biasanya diberikan kebebasan untuk mengambil nira lontara dan mengolahnya menjadi gula, dengan ketentuan si pemilik kebun wajib mendapat setoran produk gula setiap bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu perajin wajib memberi gula merah 50 biji per hari ke si punya kebun" kata Dg. Tiro saat berbicang dengan team Lontarasakti, di kawasan Balandangan.(9/11/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya dalam satu kawasan setidaknya si pemilik lahan harus menyediakan hingga puluhan hektar pohon lontara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nira bagi para perajin. Bisa dibayangkan, jika harga 1 biji gula merah sebesar sabun mandi di hargai Rp 3.000 satu perajin bisa menghasilkan uang Rp 250.000 per bulan buat si pemilik kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu dikalikan hingga 50 perajin maka setidaknya uang belasan juta akan masuk ke kantong pemilik kebun per bulannya, tanpa harus bersusah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi perajin, mengelola pembuatan gula merah cukup menggiurkan juga, maklum rata-rata produksi satu orang perajin bisa menghasilkan 20-50 biji gula merah per harinya. Dari total produksi itu si perajin harus mengumpulkan nira dari puluhan pohon kelapa setiap pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk buat 25 kg gula merah, itu diambil dari sadapan 20 tongka (tong bambu)" timpal Dg. Labbang seorang perajin lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dg. Labbang biasanya satu perajin rata-rata mendapatkan sadapan nira mencapai 20 liter per hari. Dari bahan baku itu bisa dihasilkan kurang lebih linier dengan jumlah produksi per kilogram gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dg. Labbang, mengaku ia bisa mendapat keuntungan bersih per harinya antara Rp 50.000-75.000 per atau setara rata-rata 2 kwintal gula merah per bulan. Ia mengaku biasa menjual kepada tengkulak yang berada di wilayah perkebunan. Keuntungan itu setelah dipotong oleh biaya-biaya untuk kayu bakar kebutuhan 1 bulan kayu dan sene (obat biang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang berat itu memang di kayu bakar, satu orang sebulan bisa butuh 2 mobil kayu bakar, satu mobil Rp 250.000 dan obat biang sehari Rp 5.000,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal proses pembuatan gula merah kelapa, menurut Dg. Labbang tidaklah susah. Setelah memperoleh sadapan di pagi hari, ia harus menyiapkan tungku besar kayu bakar untuk menggodok nira kelapa. Proses penggodokannya memakan waktu hingga 2 sampai 3 jam, setelah itu adonan mulai mengental dan siap untuk di taruh ke cetakan tempurung kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita memang jual Rp 2.000 per biji, tapi saya juga nggak tahu dari tengkulak jual ke pasar Tamanroya berapa,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu kata Dg. Labbang, usaha pembuatan gula merah rumahan baginya cukup bisa menghidupi keluarganya. Selain itu, pasar gula merah juga cukup tinggi terutama untuk keperluan bahan baku makanan, minuman dan lain-lain. Sehingga ia optimistis industri semacam ini meskipun berskala kecil bisa menjadi roda ekonomi masyarakat desa. (DD/Lontara Sakti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://lontarasakti.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-3966267067077284500?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/3966267067077284500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=3966267067077284500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3966267067077284500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3966267067077284500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2011/05/menengok-industri-gula-rumahan-di.html' title='Menengok Industri Gula Rumahan di Sulawesi selatan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2910209517048841946</id><published>2011-05-09T02:27:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T02:41:16.049-07:00</updated><title type='text'>Pohon Lontar Jeneponto butuh Industri Gula</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi Tuak Jeneponto Butuhkan Industri Gula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="post-meta"&gt;Makassar (ANTARA News) - Jumat, 25 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi tuak dari pohon lontar di Kabupaten  Jeneponto, Sulawesi Selatan membutuhkan industri pengolahan untuk jadi  gula merah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Produksi tuak (ballo) oleh masyarakat setempat  lebih banyak dijual dalam bentuk minuman keras sampai di Kota Makassar,  salah satu penyebabnya, karena minim fasilitas untuk mengolahnya jadi  gula, kata anggota DPRD Sulsel Mukhtar Tompo di Makassar, Jumat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kW78zJ9QA5A/Tce09q7EezI/AAAAAAAACb0/BuWTL9Zcj4M/s1600/Mengambil%2BNira%2BSiwalan%2Bdi%2BKAmboja.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kW78zJ9QA5A/Tce09q7EezI/AAAAAAAACb0/BuWTL9Zcj4M/s320/Mengambil%2BNira%2BSiwalan%2Bdi%2BKAmboja.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604647232872938290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita minta kepada Dinas Perindustrian Sulsel agar mendirikan  industri gula merah di sana. Kalau bisa sudah beroperasi 2012," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, setiap hari masyarakat Jeneponto memproduksi puluhan  ribu liter tuak, tetapi belum dirasakan manfatnya karena tidak didukung  oleh konsep ekonomi kerakyatan yang sering didengungkan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebut, di "bumi turatea" Jeneponto hanya ada satu industri  skala kecil pengelolaan gula merah dari nira lontar, itu pun hanya  menghasilkan 100 kilo gram gula merah per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Industri  gula merah, lontara sakti, tidak mampu menampung semua tuak yang dijual  masyarakat dari Kecamatan Tamalatea. Sementara hampir semua kecamatan  menghasilkan tuak," ujar Mukhtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politisi Partai Hanura ini  menyebut, di Jeneponto terdapat sekitar satu juta pohon lontar yang  tumbuh liar, atau separuh dari wilayahnya ditumbuhi pohon yang dijadikan  identitas dan warisan sejarah Sulsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xHduB6wAP0A/Tce081RlTZI/AAAAAAAACbk/OUQGx0PWoNs/s1600/Lontar%2BNTT.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xHduB6wAP0A/Tce081RlTZI/AAAAAAAACbk/OUQGx0PWoNs/s320/Lontar%2BNTT.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604647218471849362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disperindag Sulsel,  lanjut dia, cukup mengeluarkan anggaran sekitar Rp1 miliar untuk  membangun pabrik yang difasilitasi tangki penampungan tuak, dan alat  khusus berkapasitas besar untuk memasak menjadi gula merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangki penampung sementara, diperlukan untuk memperlambat proses tuak  manis menjadi arak kecup (hamar) sebelum diolah menjadi gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pabrik tersebut berdiri, Mukhtar, meyakini ekonomi masyarakat  setempat meningkat, transaksi minuman keras menurun, dan masyarakat pra  sejahtera Jeneponto yang menyebar di berbagai daerah bisa kembali  kekampungnya untuk bekerja lebih layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-SHI83re_yS8/Tce0-Nuon2I/AAAAAAAACcE/AXtTbaCGM0g/s1600/Legen%2Bdan%2BBuah%2BSiwalan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SHI83re_yS8/Tce0-Nuon2I/AAAAAAAACcE/AXtTbaCGM0g/s320/Legen%2Bdan%2BBuah%2BSiwalan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604647242216021858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qT7XYeVp6tE/Tce09nZQaRI/AAAAAAAACb8/ZEybbWk3oRA/s1600/Minum%2BTuak%2Bdi%2BBali.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-qT7XYeVp6tE/Tce09nZQaRI/AAAAAAAACb8/ZEybbWk3oRA/s320/Minum%2BTuak%2Bdi%2BBali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604647231925807378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap pohon lontar  bisa produksi 10 liter tuak. PT Lontara Sakti membeli Rp20 ribu per  jergen (20 liter). Untuk tuak pahit, dulu dijual Rp15 ribu per jergen.  Rata-rata Rumah Tangga di sana minimal memiliki 10 pohon lontar,"  ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Disperindag tidak memiliki program pembangunan  industri gula di APBD Sulsel 2011, Mukhtar berharap, dinas terkait  bersama pemerintah setempat tetap menyosialisasikan kepada masyarakat  untuk pengembangan sumber daya lokal. (T.KR-AAT/S016)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/25066/produksi-tuak-jeneponto-butuhkan-industri-gula&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gGyV0ZfqowI/Tce09DFu49I/AAAAAAAACbs/ROv8up63AHM/s1600/Memanjat%2BLontar%2BNTT.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gGyV0ZfqowI/Tce09DFu49I/AAAAAAAACbs/ROv8up63AHM/s320/Memanjat%2BLontar%2BNTT.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604647222180242386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2910209517048841946?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2910209517048841946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2910209517048841946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2910209517048841946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2910209517048841946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2011/05/pohon-lontar-jeneponto-butuh-industri.html' title='Pohon Lontar Jeneponto butuh Industri Gula'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kW78zJ9QA5A/Tce09q7EezI/AAAAAAAACb0/BuWTL9Zcj4M/s72-c/Mengambil%2BNira%2BSiwalan%2Bdi%2BKAmboja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-8263584535322268655</id><published>2011-01-27T18:22:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T18:45:29.896-08:00</updated><title type='text'>Tabel Komposisi Kimia dari Nira Siwalan dan Nira Kelapa dan Aren</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Tabel Komposisi Kimia dari &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Nira Siwalan, Nira Kelapa dan Aren&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvXI9PLI/AAAAAAAACNM/Gvv8ydwYAds/s400/Pohon%2BSiwalan%2BJudul%2BBlog.bmp" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567059082537155762" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvFOeHSI/AAAAAAAACNE/Pkr3TtE5eIc/s1600/Tabel%2Bkomposisi%2BNira%2BSiwala.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 399px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvFOeHSI/AAAAAAAACNE/Pkr3TtE5eIc/s400/Tabel%2Bkomposisi%2BNira%2BSiwala.bmp" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567059077728443682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvNC9hWI/AAAAAAAACM8/9lnHghucGBs/s1600/Tabel%2Bkomposisi%2BNira%2BPalma2.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 228px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvNC9hWI/AAAAAAAACM8/9lnHghucGBs/s400/Tabel%2Bkomposisi%2BNira%2BPalma2.bmp" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567059079827653986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvXI9PLI/AAAAAAAACNM/Gvv8ydwYAds/s1600/Pohon%2BSiwalan%2BJudul%2BBlog.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvXI9PLI/AAAAAAAACNM/Gvv8ydwYAds/s400/Pohon%2BSiwalan%2BJudul%2BBlog.bmp" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567059082537155762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-8263584535322268655?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/8263584535322268655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=8263584535322268655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/8263584535322268655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/8263584535322268655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2011/01/tabel-komposisi-kimia-dari-nira-siwalan.html' title='Tabel Komposisi Kimia dari Nira Siwalan dan Nira Kelapa dan Aren'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TUIqvXI9PLI/AAAAAAAACNM/Gvv8ydwYAds/s72-c/Pohon%2BSiwalan%2BJudul%2BBlog.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2038954963863360825</id><published>2010-02-10T07:06:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T17:27:37.231-08:00</updated><title type='text'>CANE SUGAR  VS  PALM SUGAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S3LWlxhhszI/AAAAAAAABrQ/Cp3mQmCF6Cs/s1600-h/Gula-Tebu-vs-Gula-Palem2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 397px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S3LWlxhhszI/AAAAAAAABrQ/Cp3mQmCF6Cs/s400/Gula-Tebu-vs-Gula-Palem2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436643644627071794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CANE SUGAR  VS  PALM SUGAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : S.E. Smith, 19 Des 2009&lt;br /&gt;http://www.wisegeek.com/what-is-palm-sugar.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Differences between Palm Sugar and Cane Sugar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No  Cane Sugar     Palm Sugar &lt;br /&gt;1  Cane Sugar is Sweet    Palm Sugar is sweet and delicious &lt;br /&gt;2  Cane Sugar Provides no mineral salts  Palm Sugar Provides mineral salts  &lt;br /&gt;                                                too &lt;br /&gt;3  Cane Sugar has more sugar content  Palm Sugar has less sugar content &lt;br /&gt;4  Cane sugar has less/no nutrition value  Palm Sugar contains: &lt;br /&gt;                                                a) Thiamine &lt;br /&gt;                                                b) Riboflavin &lt;br /&gt;                                                c) Nicotinic Acid &lt;br /&gt;                                                d) Ascorbic Acid &lt;br /&gt;                                                e) Protein &lt;br /&gt;                                                f) Vitamin C &lt;br /&gt;5  Cane Sugar is less therapeutic value  PalmSugar is good to the problems of &lt;br /&gt;                                                a) Asthmatic &lt;br /&gt;                                                b) Anemic &lt;br /&gt;                                                c) Leprosy &lt;br /&gt;                                                d) To accelerate growth of young &lt;br /&gt;                                                   Children &lt;br /&gt;6  Cane sugar sometimes create ill &lt;br /&gt;        effects  on the health &lt;br /&gt;                                                Palm sugar solution proves a &lt;br /&gt;                                                wonderful food in both early stages &lt;br /&gt;                                                and chronic stages of typhoid &lt;br /&gt;7  Cane Sugar creates cough and cold &lt;br /&gt;        when consumed in high quantity          Palm Sugar is good remedy for cough &lt;br /&gt;                                                and cold &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8  Cane Sugar treats no health problem  Palm Sugar treats following diseases &lt;br /&gt;                                                a) reduction of BP &lt;br /&gt;                                                b) To decrease pancreas heat &lt;br /&gt;                                                c) To strengthen heart &lt;br /&gt;                                                d) Helps to build up strong teeth &lt;br /&gt;                                                e) Reduces pitta &lt;br /&gt;9  Cane Sugar is treated as sweet water  Palm Sugar is treated as honey&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2038954963863360825?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2038954963863360825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2038954963863360825' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2038954963863360825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2038954963863360825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2010/02/cane-sugar-vs-palm-sugar.html' title='CANE SUGAR  VS  PALM SUGAR'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S3LWlxhhszI/AAAAAAAABrQ/Cp3mQmCF6Cs/s72-c/Gula-Tebu-vs-Gula-Palem2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-8490237406655996306</id><published>2010-02-10T07:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-10T07:03:20.179-08:00</updated><title type='text'>Menyadap Nira Lontar, Menenggak Rupiah</title><content type='html'>Menyadap Nira Lontar, Menenggak Rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Budiharta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah suatu ketika anda melintas di kota Tuban dan beristirahat sejenak lalu mencoba mencicipi minuman khas sana yang sering disebut legen atau nira lontar? Saran saya, berhati-hatilah, karena alih-alih ingin meneguk segarnya air nira, salah-salah anda malah sakit perut atau menjadi batuk karena gatalnya kerongkongan anda. Jika anda ingin menikmati minuman tersebut dengan aman dan nikmat, cobalah masuk ke pelosok-pelosok kampung dan carilah penyadap yang baru menurunkan bumbung air nira dari pohon lontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa oknum pedagang seringkali mencampur nira lontar dengan air-biasanya menggunakan air mentah-dengan konsentrasi hingga 5:100. Artinya dalam 100 liter ‘nira’ yang dijual, hanya terdapat 5 liter nira asli yang benar-benar disadap dari pohon lontar. Memang, selain lebih murah, nira tersebut menjadi tidak lekas basi sehingga dapat disimpan berhari-hari. Padahal nira asli tidak akan bertahan lebih dari 10 jam, karena bila lewat dari tempo tersebut, air nira akan berbusa, berasa masam dan mengeluarkan bau yang bisa-bisa membuat anda muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tanpa mencampur dengan air, nira memberikan keuntungan ekonomi sangat menggiurkan. Sebatang pohon lontar produktif yang terpelihara dengan baik, dapat menghasilkan 3-5 liter air nira sehari, dipanen 2 kali pagi dan sore. Dengan harga per liter di tingkat penyadap Rp1.000-harga yang lebih murah dibanding air mineral dalam kemasan- satu pohon dapat menghasilkan Rp3.000-Rp5.000 per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani kecil yang hanya mempunyai 20 pohon lontar saja, dengan tanaman produktif 12 pohon, maka dalam sehari dia mampu menangguk penghasilan hingga Rp36.000-Rp60.000 sehari dengan jam kerja kurang dari 4 jam. Bila dia menyadap kepunyaaan orang lain, maka bagi hasil yang umum disepakati adalah 6:1 dengan penyadap mendapat porsi yang lebih besar. Disela-sela waktu sadapnya, penyadap dapat melakukan pekerjaan lain seperti berkebun, mengolah sawah dan lain-lain sehingga mendapatkan penghasilan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka tersebut barulah hitungan kasar, yang tidak memasukkan nilai tanaman lain seperti padi, palawija atau buah-buahan, karena tanaman lontar umumnya dibudidayakan secara tumpangsari sehingga sangat sesuai untuk pengembangan sistem agroforestry. Pohon lontar dapat ditanam di pinggir-pingir sawah atau sering disebut galengan dengan jarak tanam optimum 5 meter. Keunggulan jenis ini dibanding dengan tanaman lain semisal kelapa adalah akarnya yang sempit dengan sedikit serabut sehingga tidak terlalu menghabiskan banyak tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nira lontar dapat diolah menjadi beberapa produk turunan seperti gula dan tuak (alkohol). Gula lontar memiliki citarasa yang berbeda jika dibandingkan dengan gula tebu, gula aren atau gula kelapa dengan rasa legit dan sedikit masam. Untuk menghasilkan 1 kg gula lontar seharga Rp5.000, dibutuhkan air nira sebanyak 6-7 liter dengan waktu olah 3-4 jam. Kurang menguntungkan jika dibandingkan menjual langsung dalam bentuk nira segar atau legen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi lain yang masih bisa dimanfaatkan adalah daun lontarnya dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan atau souvenir. Para pengrajin biasa membeli dengan harga Rp1.200 tiap setengah pelepah. Dalam 1 tangkai pelepah hanya setengah sisi saja yang dapat dimanfaatkan karena sisi yang lain tertekuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah lontar yang masih muda dapat dijual sebagai buah segar dengan harga Rp500 per buah. Dalam 1 buah terdapat 3 biji (tempurung) dimana didalamnya berisi daging buah berwarna putih segar dengan tekstur lembut dan sedikit kenyal seperti kelapa muda atau aren. Beberapa asam amino yang terkandung di dalamnya antara lain alanin, serin, arginin dan glutamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan buah yang tua, atau sering disebut keling, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal seperti jenis-jenis palem yang lain seperti kelapa sawit atau kelapa, daging buahnya dapat diolah menjadi minyak goreng. Tandan bunganya bahkan dapat digunakan sebagai obat pegal linu. Selain itu masih banyak kegunaan tanaman yang di India disebut pohon dengan 800 manfaat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara agronomi, budidaya lontar tidaklah terlalu sulit. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah kering berpasir hingga ketinggian 800 m diatas permukaan laut bahkan di kawasan-kawasan dimana jenis palem produktif lain seperti aren atau kelapa tidak mampu berkompetisi. Jenis dengan nama latin Borassus flabellifer ini juga sangat mudah beradaptasi, tahan terhadap kekeringan dan mampu bertahan dengan curah hujan 500-900 mm per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyakan umumnya menggunakan biji dengan cara langsung meletakkannya ke tanah tanpa menyemainya terlebih dahulu. Bibit lontar amat sensitif karena memindahkan pada saat telah menjadi semai (tanaman muda) sangatlah sulit dan rawan mati. Lontar akan mulai berbunga dan berbuah pada umur 12-20 tahun, biasanya pada musim kemarau. Untuk menyadap nira, tangkai bunga disayat tipis melintang, lalu diletakkan bumbung pada ujung sayatan untuk menampung cairan nira yang menetes. Sebelumnya, bumbung harus sibersihkan dengan air panas, dibubuhi kapur halus (enjet) dan dipasangi laru (semacam serambut) untuk menyaring tetesan nira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun lontar memiliki beragam potensi yang sedemikian besar, hal tersebut tidak serta merta membuat masyarakat tertarik untuk membudidayakannya. Khusus di Kabupaten Tuban yang merupakan kawasan dengan populasi lontar terbesar di Pulau Jawa, keberadaan tanaman ini perlu mendapat perhatian khusus. Banyak pohon lontar produktif yang ditebangi, sedangkan tanaman mudanya tidak terpelihara dan bahkan cenderung dimatikan oleh masyarakat setempat. Keadaan ini mengakibatkan jumlah populasinya turun drastis sehingga dikhawatirkan akan mengalami pelangkaan. Padahal dahulu, Indonesia dengan kerajaan Majapahitnya pernah tercatat sebagai negara pengekspor daun lontar terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang terjadi adalah mulai bergesernya nilai-nilai sosial terutama di kalangan anak-anak muda. Generasi muda di sana mulai enggan memanjat pohon lontar karena pekerjaan tersebut harus berkotor-kotor sehingga dianggap tidak memiliki gengsi. Para pemuda lebih memilih merantau ke kota besar atau menjadi TKI ke luar negeri meskipun pekerjaan yang dijalani umumnya adalah buruh kasar. Pekerjaan menyadap nira saat ini hanya dilakukan oleh generasi tua yang berusia di atas 40 tahun, padahal dahulu hampir seluruh penduduk Tuban mampu dan mau memanjat karena kebanyakan hidup mereka ditopang oleh hasil pohon lontar. (S. Budiharta) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel lama yang pernah diposting pada Jumat, 9 Juni 2006) &lt;br /&gt;Sumber : UPT BKTKR Purwodadi (http://www.krpurwodadi.lipi.go.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-8490237406655996306?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/8490237406655996306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=8490237406655996306' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/8490237406655996306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/8490237406655996306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2010/02/menyadap-nira-lontar-menenggak-rupiah.html' title='Menyadap Nira Lontar, Menenggak Rupiah'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-7403155476964735040</id><published>2009-10-06T20:28:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T20:38:40.369-07:00</updated><title type='text'>Gula Lempeng dari Nusa Lontar</title><content type='html'>Sumber : http://blog.reynoldsumayku.com/?p=1102&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/3.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/5.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/4.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/6.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/6.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/7.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 335px; height: 500px;" src="http://blog.reynoldsumayku.com/wp-content/uploads/2009/10/7.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gula Lempeng dari Nusa Lontar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas Mooy mengaku lupa berapa umurnya secara persis. Ia hanya memberi ancar-ancar di atas 70 tahun. Wajahnya memang dipenuhi keriput. Tetapi rekan saya om Yeremi berbisik kepada saya, mungkin Pak Andreas salah hitung umur. Buktinya, Andreas berkali-kali memanjat pohon lontar pagi itu dengan kecekatan yang sangat mencengangkan untuk ukuran lelaki berumur 70-an. Otot-ototnya tampak sungguh liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sedang mengunjungi kebun dekat kediaman Andreas dan istrinya yang keempat, Yunce Unbanu (asal Timor), di Desa Oehandi, Pulau Rote. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana air dari pohon lontar diproses menjadi gula berbentuk lempengan-lempengan kecil. Dengan latar belakang suara tawa anak-anak yang sedang bermain, Andreas yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu sedang menunjukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Om Yeremi sebagai penerjemah, gambaran tentang gula lempeng saya dapatkan. Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Andreas bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, Yunce bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka membuat minimal 150 lempengan gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu memotretnya hanya sekitar dua jam lebih sedikit. Saya jauh dari kata puas dengan hasilnya. Tetapi setidaknya, setelah yang satu ini saya merasa lega karena target dari perjalanan ke Rote cukup terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Foto :&lt;br /&gt;(1) Om Yeremi Pah (jaket merah) di bawah pohon-pohon lontar dekat Danau Tua. Di Rote, ada satu jenis pohon lagi yang mirip lontar yakni pohon gewang. “Tetapi gewang tidak begitu banyak kegunaannya dibanding lontar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Andreas Mooy di atas pohon lontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Wadah yang digunakan terbuat dari daun lontar pula. Ini Pak Andreas Mooy dari dekat. Anda percaya ia berumur 70-an tahun? Saya percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Yunce Unbanu tengah mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Gula lempeng yang masih cair dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang dibuat dari daun lontar juga. Kemudian didinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Sudah mulai mengering.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-7403155476964735040?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/7403155476964735040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=7403155476964735040' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7403155476964735040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7403155476964735040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/10/gula-lempeng-dari-nusa-lontar-andreas.html' title='Gula Lempeng dari Nusa Lontar'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-4724966443253163162</id><published>2009-10-06T20:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T20:25:58.897-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SswJ0X5EeRI/AAAAAAAABhY/dEHU5GMlHP0/s1600-h/Siwalan-dg-jarak-4-meteran.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SswJ0X5EeRI/AAAAAAAABhY/dEHU5GMlHP0/s400/Siwalan-dg-jarak-4-meteran.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389693649426872594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lontar si Pohon Gula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin belum banyak yang tahu, pohon lontar telah memberikan kehidupan bagi orang Rote dan Sabu. Gula nira hasil penyadapan selain bernilai ekonomis, juga merupakan makanan pokok mereka. Lontar juga tumbuhan serbaguna dan jadi sumber penghidupan utama di ke dua pulau yang beriklim kering itu. Batangnya dibuat bahan papan, pelepahnya dibuat dinding rumah dan kayu bakar, daun untuk atap, dan perdagangan gula nira hingga ke luar pulau telah terbukti mampu membiayai sekolah anak-anak di Rote dan Sabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lontar [ Borassus sundaicus Beccari] adalah tanaman penghasil gula paling efisien di dunia. Lontar termasuk tanaman berkelamin ganda. Mayang jantan muncul dari pucuk lontar berupa tunas-tunas bercabang tajam berpasangan. Mayang betina menghasilkan tandan-tandan berisi buah. Buah lontar di luar Rote dan Sabu dikenal dengan nama siwalan, terutama di Jawa. Di Jawa, buah lontar lebih banyak di panen dibandingkan disadap niranya. Sebaliknya buah siwalan jarang ditemui di Rote dan Sabu akibat penyadapan nira yang memotong mayang jantan sehingga tidak menghasilkan buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah lontar atau siwalan termasuk sulit didapat di Indonesia, kalaupun ada tidak dijajakan secara khusus seperti pada musim buah durian atau rambutan. Buahnya kenyal dan manis hampir seperti kolang-kaling. Di Jakarta setahu penulis siwalan dijajakan di daerah Pasar Baru dan Ancol. Di  pasar-pasar tradisional di Jakarta sulit dijumpai penjaja siwalan, terlebih lagi di supermarket. Sebaliknya, kabar dari seorang teman, Thailand malah sudah mengalengkan siwalan sebagai komoditi ekspornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon lontar disebut Due dalam bahasa Sabu, buah mudanya disebut Wohiru, dan buah yang telah tua disebut Wokeli. Pengambilan nira adalah proses memotong untaian bunga jantan setahap demi setahap setiap hari. Dalam dua bulan dapat dihasilkan nira sebanyak 3-5 liter, bahkan seorang yang ahli memanen dapat menghasilkan 10 liter perpohon. Penyadap nira yang terampil dapat menyadap dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa ia harus turun dari pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian James Fox, praktek pengambilan Nira di Rote menghasilkan jumlah nira yang beragam selama satu musim. Namun jumlah nira sangat ditentukan oleh jumlah mayang yang disadap. Sebatang lontar dengan lima mayang mampu menghasilkan 6,7 liter nira sehari atau 47 liter seminggu. Diakhir masa penyadapan sebatang pohon lontar dengan satu mayang masih dapat menghasilkan nira 2,25 liter perhari atau 15 liter seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil gula nira di Sabu disebut Donahu, sedangkan setelah dimasak hingga menjadi gula padat disebut Domegeru. Cara masak nira orang Sabu dan Rote tidaklah sama. Orang Sabu memasak lebih lama, sehingga gula menjadi lebih hitam dan kental, sedangkan orang Rote memasak nira dengan perubahan hanya 15% saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyakan pohon lontar kebanyakan terjadi secara alami. Biji yang tua dibiarkan di sekitar pohon, lalu terbawa aliran air ketika hujan, atau dibawa hewan liar, dan tumbuh pada tempat-tempat di sekitar kebun. Adapula orang mengambil bibit itu lalu menanamnya ditempat yang ia kehendaki. Pada usia 5 tahun lontar baru siap di panen. Umur pohon lontar sangat panjang. Seorang Sabu yang saya temui, Matheus Liwerohi, mengatakan bahwa ia mewarisi kebun lontar yang telah berusia tiga generasi sejak jaman kakeknya, dan hingga kini masih diambil niranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gula nira kental merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi orang Sabu dan Rote. Jagung atau rebusan daun singkong atau sayur-sayuran lainnya cukup “dicolek” seperti makan lalap dan sambal. Minumnya pun air nira. “Badan jadi sehat dan bertenaga”, kata Matheus menyakinkan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain diolah sebagai gula padat, nira juga dibuat minuman tuak atau disebut sopie. Nira dicampur air dan bahan-bahan akar tumbuhan tertentu direndam satu malam dan ditutup rapat agar terjadi fermentasi. Kemudian hasilnya disuling [direbus dalam nyala api kecil dan uapnya dialirkan melalui pipa dan ditampung].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cuka nira juga dibuat orang Sabu dan Rote. Cara membuatnya lebih mudah lagi. Cukup masukan nira dalam wadah semacam jerigen dan ditutup rapat hingga satu bulan. Cuka nira ini merupakan bumbu yang sedap untuk memasak. Ikan sebelum digoreng cukup dicelup nira.  Cuka nira hanya dibuat untuk keperluan memasak keluarga, karena waktu pembuatan yang cukup lama tidak segera menghasilkan uang, bila dibandingkan dengan memproduksi air nira atau gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cintanya orang Sabu pada Lontar, hingga Matheus yang telah merantau puluhan tahun di Kupang, selalu teringat syair dari kampung halamannya “ Bole belo raidi raihu,  Rai due nga donahu” yang artinya kurang lebih “jangan lupa tanah air tanah Sabu yaitu tanah nira dan gula”.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://riobunet.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-4724966443253163162?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/4724966443253163162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=4724966443253163162' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/4724966443253163162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/4724966443253163162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/10/lontar-si-pohon-gula-mungkin-belum.html' title=''/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SswJ0X5EeRI/AAAAAAAABhY/dEHU5GMlHP0/s72-c/Siwalan-dg-jarak-4-meteran.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-623877619992263315</id><published>2009-04-19T09:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T09:18:31.629-07:00</updated><title type='text'>Siwalan dan kandungan NIRA nya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetOR_N4oHI/AAAAAAAABDY/W8qa9yjYIdk/s1600-h/Warung-produk-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetOR_N4oHI/AAAAAAAABDY/W8qa9yjYIdk/s320/Warung-produk-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326437055230156914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetORYIYOqI/AAAAAAAABDQ/dD0VwJiSsqs/s1600-h/Gathik-glathi-Saringan-Jeri.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetORYIYOqI/AAAAAAAABDQ/dD0VwJiSsqs/s320/Gathik-glathi-Saringan-Jeri.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326437044738079394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetORPNCdiI/AAAAAAAABDI/_uN5YPdLd44/s1600-h/Memanjat-Siwalan-Pagi-dan-s.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetORPNCdiI/AAAAAAAABDI/_uN5YPdLd44/s320/Memanjat-Siwalan-Pagi-dan-s.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326437042341705250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Siwalan dan kandungan NIRA nya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalan (Borassus flabellifer L.), dikenal dengan nama lontar atau tal adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di sebelah timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Anonim, 2006i). Nama yang umum untuk siwalan menurut berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia biasa disebut lontar, tal atau siwalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi tanaman siwalan menurut Anonim (2006g) adalah: &lt;br /&gt;Kingdom : Plantae&lt;br /&gt;Divisio : Magnoliophyta&lt;br /&gt;Klas : Liliopsida&lt;br /&gt;Ordo : Arecales&lt;br /&gt;Famili : Arecaceae&lt;br /&gt;Genus : Borassus&lt;br /&gt;Spesies : Borassus flabellifer L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi nira siwalan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 Komposisi Nira Siwalan&lt;br /&gt;Komponen   ----------------------Jumlah&lt;br /&gt;Total gula (g/100 cc)  -------------10,93&lt;br /&gt;Gula reduksi (g/100 cc) -----------0,96&lt;br /&gt;Protein (g/100 cc)  ----------------0,35&lt;br /&gt;Nitrogen (g/100 cc)  ---------------0,056&lt;br /&gt;pH (g/100 cc)   ---------------------6,7-6,9&lt;br /&gt;Specific gravity  --------------------1,07&lt;br /&gt;Mineral sebagai abu (g/100 cc)-----0,54&lt;br /&gt;Kalsium (g/100 cc)  ----------------Sedikit&lt;br /&gt;Fosfor (g/100 cc)  ------------------0,14&lt;br /&gt;Besi (g/100 cc)  --------------------0,4&lt;br /&gt;Vitamin C (mg/100 cc) -----------13,25&lt;br /&gt;Vitamin B1 (IU)  -------------------3,9&lt;br /&gt;Vitamin B komplek  ----------------Diabaikan&lt;br /&gt;Sumber: Davis and Johnson (1987) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi nira dari berbagai tanaman palmae seperti pada Tabel 2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2 Komposisi Nira berbagai Tanaman Palmae (%)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Tanaman  ------Kadar Air Kadar gula  Kadar Protein Kadar Lemak Kadar Abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aren 1   ---------------88,85  ----10,02  -----0,23  ----------0,02  --------0,03&lt;br /&gt;Aren 2   ---------------87,66  ----12,04  -----0,36  ----------0,02  --------0,21&lt;br /&gt;Lontar   ---------------87,78  -----10,96  ----0,28  ----------0,02  --------0,10&lt;br /&gt;Nipah   ----------------86,30  ----12,23  -----0,21  ----------0,02  --------0,43&lt;br /&gt;Kelapa 1  -------------87,78  -----10,88  -----0,21  ----------0,17  --------0,37&lt;br /&gt;Kelapa 2  -------------88,40  ----10,27  ------0,41  ----------0,17  --------0,38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Anonim (1981)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Nira ditandai oleh penurunan pH disebabkan adanya perombakan gula menjadi asam organik oleh mikroba seperti khamir (Saccharomyces sp.) serta bakteri Acetobacter sp. Nira sangat mudah terkontaminasi karena mengandung nutrisi yang lengkap seperti gula, protein, lemak dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan khamir optimal pada pH 4,0-4,5 (Fardiaz, 1992). Khamir tumbuh dengan baik pada suasana aerob namun untuk khamir fermentatif dapat tumbuh pada suasana anaerob (Jutono dkk, 1972). Menurut Said (1987) kadar gula yang optimal untuk pertumbuhan khamir adalah 10%, tapi kadar gula yang optimal untuk permulaan fermentasi adalah 16%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saccharomyces cereviceae merupakan khamir yang bersifat fermentatif kuat dan mempunyai suhu optimal untuk pertumbuhannya 25-30°C (Fardiaz, 1992) serta mampu menghasilkan enzim-enzim antara lain α-glukosidase, α-galaktosidase, selulase dan invertase (Astuty, 1991). Khamir Saccharomyces cereviceae bersifat anaerob fakultatif yang optimal dapat hidup dengan atau tanpa menggunakan O2 sebagai penerima elektron terakhir dalam metabolisme selnya. Kondisi aerob sel khamir akan memperbanyak aktivitas pertumbuhan dan sedikit sekali menghasilkan etanol sedangkan pada kondisi anaerob aktivitas khamir cenderung menghasilkan etanol (Maiorella, 1985). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUAH SIWALAN ATAU JUGA DISEBUT : BUAH LONTAR : Buahnya agak bulat, bergaris tengah 7 - 20 cm, ungu tua sampai hitam, pucuknya kekuningan. Buah berisi 3 bakal biji. Daging buah muda warna putih kaca/transparan, daging buah dewasa/tua warna kuning kemudian berubah menjadi serabut. Buah siwalan merupakan sumber karbohidrat berupa sukrosa, glukosa dan air. kadar protein dan lemaknya sangat rendah dibawah 1%, serta sedikit serat. (By Simon B Widjanarko)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://simonbwidjanarko.wordpress.com/2008/06/28/siwalan-dan-kandungan-nira-nya/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-623877619992263315?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/623877619992263315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=623877619992263315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/623877619992263315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/623877619992263315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/04/siwalan-dan-kandungan-nira-nya.html' title='Siwalan dan kandungan NIRA nya'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SetOR_N4oHI/AAAAAAAABDY/W8qa9yjYIdk/s72-c/Warung-produk-Siwalan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-6005957400521702232</id><published>2009-01-08T14:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T14:33:44.410-08:00</updated><title type='text'>Membuat ‘Legen’ dan ‘Tuak’ di Masa Pati Wolo Siwalan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Membuat ‘Legen’ dan ‘Tuak’ di Masa Pati Wolo Siwalan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dian Kusumanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pati wolo produksi nira Siwalan turun drastis bahkan sangat minim sekali, namun demikian masih ada satu dua pohon Siwalan yang masih mampu berproduksi.   Oleh karena itu untuk tetap memenuhi pasar minuman Legen dan Tuak ini para pedagang Legen dan Tuak Siwalan ini mempunyai trik-trik untuk tetap menyediakan minuman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini sangat dirahasiakan oleh para pedang minuman Legen dan Tuak Siwalan.  Karena itu penulis sangat kesulitan untuk memperoleh informasi yang sangat rahasia ini.  Dengan beberapa cara akhir ada juga diantara petani yang mau menjelaskan trik-trik yang biasa dilakukan oleh pedagang minuman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berawal dari pemikiran penulis setelah mengetahui keadaan sebenarnya siklus produksi yang pada masa pati wolo ini sangat turun drastis.  Namun di tingkat pedagang seolah-olah fluktuasi produksi ini tidak terjadi.   Para pedagang di pinggir jalan masih tetap saja bisa menjual Legen dan Tuak dalam jumlah yang hampir tidak beda dengan masa-masa biasanya.  Hal ini terjadi karena pedagang bisa membuat legen dan tuak buatan, yang tidak murni namun masih tetap bisa diterima oleh konsumen, karena konsumen sudah terbiasa dan sulit untuk menghentikan kebiasaan menkonsumsi minuman khas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legen dan Tuak buatan ini memang nyaris tidak berbeda dengan yang murni atau aslinya.  Namun bagi yang biasa sebenarnya masih bisa merasakan perbedaannya.  Adapun yang penulis dapatkan informasi bocorannya bersumber dari seorang petani yang sudah biasa berhubungan dengan para pedagang yang mempraktekkan.  Sumber tersebut tidak mau disebutkan namanya.  Namun jika dicek dengan beberapa informasi lainnya maka informasi ini bisa mewakili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara untuk membuat Legen Buatan itu sebagai berikut.   Jika legen yang akan dibuat nanti 25 liter, maka bahannya antara lain adalah : legen asli 5 liter, pupus daun Siwalan 2-5 pupus, sari manis secukupnya dan air  20 liter.  Semua bahan dicampur dan dimasak sampai mendidih dan kemudian didinginkan.  Biasanya legen buatan ini bisa lebih awet dan tidak mudah berubah karena fermentasi,  lain dengan legen atau nira Siwalan asli yang biasanya mudah berubah karena fermentasi gampang terjadi setelah sekitar 4 jam.   Legen asli akan agak awet jika dimasak lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan tuak buatan?  Tuak buatan sebanyak 30 liter itu dibuat dari Tuak lama sebanyak 10 liter, Tuak baru 5 liter, Air 15 liter, ditambah secukupnya sari manis,  untuk rasa ’sepet’ menggunakan Duwet atau Juwet dan rasa pahit dengan menggunakan sambiloto.  Kadang-kadang sari manis tidak digunakan.    Tuak lama adalah tuak yang memang disimpan dalam waktu yang sudah lama.  Tuak lama biasanya kandungan alkoholnya agak tinggi.  Tuak baru memang dimaksudkan untuk menjaga aroma dan rasa tuak buatan.  Buah juwet yang kelat atau ’sepet’ dan sambiloto yang pahit memberi kesan sepet pahitnya rasa tuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pembuatan legen dan tuak buatan ini hanya dilakukan hanya pada saat pati wolo saja?  Atau juga dilakukan untuk menyiasati pasar yang permintaannya banyak sepanjang tahun, padahal ada masa menurunnya produksi.  Pedagang yang baik harusnya menjelaskan produk yang dijual ini legen atau tuak asli atau legen atau tuak buatan.  Apakah legen yang dijual sampai ke luar daerah itu asli atau buatan?  Wah... kalau masalah ini perlu ditelusuri lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahan ada info lanjutan tentang ini.  Apakah Anda ada informasi lain tentang ini?  Kami tunggu tanggapan Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-6005957400521702232?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/6005957400521702232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=6005957400521702232' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6005957400521702232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6005957400521702232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/membuat-legen-dan-tuak-di-masa-pati.html' title='Membuat ‘Legen’ dan ‘Tuak’ di Masa Pati Wolo Siwalan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-3956034138504117199</id><published>2009-01-04T01:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T02:09:08.373-08:00</updated><title type='text'>PATI WOLO : MASA NIRA SIWALAN TIDAK BERPRODUKSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCF0XB8mQI/AAAAAAAAAo8/wFxSW5Nq_3Q/s1600-h/Jarak-tanam-4-meteran.gif"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCF0XB8mQI/AAAAAAAAAo8/wFxSW5Nq_3Q/s320/Jarak-tanam-4-meteran.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287373097114835202" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCEC9l-jhI/AAAAAAAAAoM/nvspZTilayk/s1600-h/Siwalan-dg-jarak-4-meteran.gif"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCEC9l-jhI/AAAAAAAAAoM/nvspZTilayk/s320/Siwalan-dg-jarak-4-meteran.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287371148961418770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;PATI WOLO : MASA NIRA SIWALAN TIDAK BERPRODUKSI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dian Kusumanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pergantian tahun kemarin penulis sempat ke Tuban.  Mampir dari tugas kantor mengawal kunjungan belajar para PPL dari Kabupaten Nunukan ke Jogjakarta dan Malang.   Yaa.. sambil mengadakan TOT ke kampung halaman. TOT itu adalah kegiatan ”tengok orang tua”, bukan training of trainers lho.   Dengan naik bus umum seusai acara kantor dari Malang meuju tujuan TOT pertama ke Banyuwangi.  Sedangkan TOT selanjutnya menuju Tuban, tepatnya di Merakurak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Banyuwangi penulis menyempatkan waktu untuk mengunjungi kebun kelapa dan mencari info tentang pengolahan nira kelapa menjadi gula merah.  Tentu saja mengumpulkan koleksi foto-foto untuk bahan publikasi di blogspot ini.  Demikian juga pada saat penulis ke Tuban,  meluangkan kesempatan kembali ke Desa Boto Kecamatan Semanding.   Sebenarnya kampungnya Pak Sogi ini adalah daerah perbatasan antara Kecamatan Merakurak dan Semanding dan lebih dekat dengan tempat TOT penulis.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 182px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCECFq2XII/AAAAAAAAAoE/Qs9sDgkqxSk/s320/Pak-Sogi-saat-nira-siwalan-.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287371133949467778" /&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pak Sogi pada masa pati wolo lebih banyak pergi ke ladang untuk tanam jagung, ubikayu, petik buah Srikaya, piara Sapi dan Kambing.  Kalau dulu sering pergi ke Bali untuk menjadi tukang bangunan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Saat itu Siwalan sedang kurang sekali produksinya, bahkan sebagian besar petani Siwalan sedang libur mengudara, karena pohon-pohon sangat sedikit yang bisa dipanjat.   Jadi, para ”angkatan udara” kita ini lebih banyak bersantai di rumah, atau justru melakukan aktifitasnya di ladang dan di sawah.  Pada musim penghujan di bulan-bulan Desember, Januari dan Februari bahkan sampai Maret  justru pohon Siwalan  sedang berhenti berproduksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa seperti ini disebut sebagai masa ’pati wolo’, artinya adalah matinya produksi nira Siwalan dari tandan bunga (wolo).  Sebenarnya juga tidak kosong sama sekali, tapi produksi nira sangat sedikit sekali.  Masa-masa yang paling ”kering” ini biasanya akan berlangsung sekitar 3 bulan.  Dengan demikian aktifitas panjat-memanjat berkurang drastis,  barangkali hanya satu-dua pohon saja yang masih ada ’wolo’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ”bethek” yaitu bambu penampung nira di atas pohon itu lebih banyak yang teronggok di bawah, berkumpul ramai-ramai sesama bethek yang sedang cuti bersama.  Saat-saat begini biasanya digunakan juga untuk mempersiapkan bethek-bethek baru, karena ada saja bethek yang bocor atau retak.  &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 257px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCEBkhpI7I/AAAAAAAAAn8/X6gCW0RX5tk/s320/Bambu-Bumbung-Nira-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287371125052482482" /&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Bethek yang sedang masa istirahat pakai&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Bethek dibuat dari bambu, satu lonjor bambu bisa dibuat sekitar 10 bethek.  Jumlah bethek untuk pengambilan LEGEN jumlah 2 kali lipat dibanding untuk pengambilan TUAK.   Sebab untuk LEGEN (nira manis) maka kebersihan dan sterilitas bethek harus terjaga agar tidak terjadi proses fermentasi yang berlebihan sehingga nira berubah menjadi TUAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ciri khas dalam memperlakukan bambu untuk dijadikan bethek, centhak ataupun bonjor.  Bambu diserut, dibersihkan dan dihaluskan seluruh permukaannya, kemudian bibirnya ditipiskan sehingga ada kesan isinya lebih banyak dan lebih ringan.  Tipisnya bibir bethek, centhak dan bonjor ini yang saya maksud sangat khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bethek berfungsi untuk menampung nira di atas pohon, sedang centhak adalah tempat untuk minum (gelas) LEGEN atau TUAK.  Maka ada ukuran yang khas bagi centhak ini, biasanya juga sama dengan ukuran volume gelas,  yaitu sekitar 200 sampai 300 ml.   Centhak sekarang juga agak susah ditemui, banyak diganti dengan gelas beling atau gelas plastik, lebih praktis dan gampang mencucinya.  Kalau centhak lebih ribet membawanya dan lebih berat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bonjor dibuat lebih panjang yang terdiri dari beberapa ruas bambu, yang tingginya sekitar 1 sampai 1,5 meter, gunanya untuk tempat menampung nira LEGEN atau TUAK.   Kalau dulu bonjor sering kita jumpai dipikul oleh para pedagang legen atau tuak yang di pinggir jalan, sekarang agak sulit ditemui, karena bonjor digantikan oleh jerigen plastik.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCFzhSFMTI/AAAAAAAAAos/0bxPHSwD5sI/s320/Minum-tuak-di-pingir-jalan-.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287373082686992690" /&gt; &lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCF0PbpGrI/AAAAAAAAAo0/FOoRv1ctXrY/s320/Warung-Legen-sepanjang-jala.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287373095075125938" /&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sekarang penjual Tuak di pinggir jalan tidak lagi menggnakan bonjor dan centhak, cukup dan lebih praktis menggunakan jerigen dan gelas plastik.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Bonjor dan centhak merupakan perlengkapan yang khas para penjaja legen dan tuak di pinggir jalan.  Itu adalah keadaan dulu, jaman saya masih anak-anak atau masih sekolah, sekitar tahun 70-80 an.  Sekarang ini di era tahun 2000-an susah mencarinya, oleh karenanya sekarang sudah dibuat semacam  miniaturnya.  Miniatur bonjor ini sangat elok bila dipajang di ruang tamu sebagai simbul kalau kita ini orang Tuban.  Meskipun bukan identik sebagai penggemar TUAK,  miniatur bonjor ini hanya sebagai representatifnya budaya Tuban.  Yaa.. memang itu ciri khas yang selama kurun waktu sejarah Tuban menjadi icon, yang memang tidak ada duanya di daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada masa pati wolo,  para kaum angkatan udara Siwalan ini lebih banyak waktunya untuk mengelola ladang mereka.  Pada masa ini penanaman Jagung, Ubikayu, Kacang Tanah, Sorgum atau ”Orean”  menjadi aktifitas utama.  Namun banyak juga para pasukan angkatan udara Siwalan ini pergi merantau mencari pekerjaan lain atau bisnis lain bahkan sampai ke luar daerah, demi mengisi masa-masa pati wolo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di Boto Semanding, kampungnya Pak Sogi dan Pak Rosan, dulu sampai sekarang ini pada saat seperti ini banyak orang yang ke Bali untuk mencari pekerjaan sebagai Tukang ataupun pekerjaan lainnya.  Soalnya agak sulit mencari kerja di Tuban sendiri dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya, yang biasanya hanya tukang atau kuli bangunan.  Di Tuban ada sih proyek, tapi sudah banyak orang yang mengisinya,  sedangkan untuk proyek-proyek di Bali mereka ada kenalan dengan para broker tenaga borongan proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif upaya mengurangi kekurangan serapan kerja kebun Siwalan dengan produksi nira Siwalan sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pati wolo ini berarti serapan pekerjaan di kebun Siwalan berkurang, sehingga para petani dan pemanjat Siwalan kurang aktifitasnya.  Petani di Tuban sudah merasa kalau menganggur siapa yang bayar, apa yang akan dihasilkan?   Ini namanya etos kerja produktif.   Etos kerja produktif berarti kemauan untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu sehingga bernilai, bermanfaat untuk kehidupan masa-masa besuk dan yang akan datang.  Bisa jadi ini yang disebut sebagai etos bekerja produktif, ada yang mengatakan etos kerja berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sudahkah pilihan pekerjaan itu menjadi pilihan yang cerdas?  Ini perlu diuji dengan beberapa kriteria sehingga pilihan itu bisa disebut sebagai memiliki etos bekerja cerdas.  Cerdas atau tidak cerdasnya adalah tergantung dari efektifitas capaian hasil kerja serta tingkat efesiensi sumberdaya yang digunakan dalam mencapai hasil kerja itu.  Semakin efektif dan efisien dalam menggunakan sumberdaya yang ada berarti semakin cerdas juga kita dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya, adalah kalau kita mau agar petani Siwalan kita yang mempunyai etos kerja tinggi ini juga dapat memanfaatkan waktunya bekerja di Tuban saja ntuk mengelola sumberdaya alam yang lebih kompetitif dalam nilai ekonominya di banding di daerah lainnya.    Untuk itu para pengambil kebijakan di Tuban atau di daerah mana saja Siwalan ditanam bisa memaksimalkan keunggulan dari komoditi Siwalan ini lebih kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara satu-satunya adalah dengan pegelolaan kebun Siwalan yang lebih intensif lagi.   Masa-masa pati wolo ini sebenarnya bukan saja karena pergantian musim atau siklus musim, namun juga akibat dari perlakukan dari para petaninya yang memang belum mengetahui trik-trik dalam mengatur produktifitas Siwalan agar bisa berproduksi sepanjang tahun.  Kenapa cara-cara seperti ini belum diketahui oleh petani kita sampai saat ini?  Mungkin karena mereka hanya mengambil hasil saja terus-menerus dan merasa dengan perlakuan apa adanya saja sudah memberi hasil.  Mereka nrimo saja.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 165px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCEDw32lnI/AAAAAAAAAoc/FnHD7tcWPjw/s320/Pak-Kusriyanto-pedagang-bua.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287371162726602354" /&gt;   &lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCFzYmR0lI/AAAAAAAAAok/DchB27Ks3Uw/s320/Pak-Kusriyanto-sedang-kupas.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287373080355787346" /&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pak Kusriyanto, dia tidak memiliki pohon Siwalan dan memilih profesi sebagai penjual buah Siwalan di Terminal Bus dan memasok warung-warung Siwalan di pinggir jalan.  Sebungkus buah Siwalan yang sudah dikupas ini dijual seharga Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per bungkus isi 5 biji buah.  Dia membeli buah Siwalan dari kebun seharga Rp 3.000 per sepuluh buah, setiap buah terdapat rata-rata 3 biji buah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini memang tataran para peneliti atau para projo yang mengambil kebijakan dan keputusan.  Masalah pati wolo ini memang sederhana, namun rupanya berpengaruh pada pranata kehidupan sosial di kampung-kampung para penyadap nira Siwalan ini.   Namun kalau mereka tidak peka pada masalah yang dihadapi masyarakat di bawah juga agak susah merasakan fenomena ini.  Maka barangkali Raden Mas Said si Brandal Lokajaya bisa dipanggil untuk merasakan ’kegetiran’ nasib kaum kecil di Tuban. (bersambung)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 304px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCF06deReI/AAAAAAAAApE/5yZ2gZPXri0/s320/Es-Siwalan-gulo-jowo.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287373106625529314" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-3956034138504117199?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/3956034138504117199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=3956034138504117199' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3956034138504117199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3956034138504117199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/pati-wolo-masa-nira-siwalan-tidak.html' title='PATI WOLO : MASA NIRA SIWALAN TIDAK BERPRODUKSI'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SWCF0XB8mQI/AAAAAAAAAo8/wFxSW5Nq_3Q/s72-c/Jarak-tanam-4-meteran.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2590407398335217884</id><published>2009-01-02T18:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:27:02.590-08:00</updated><title type='text'>LONTAR Multiguna, dari Akar hingga Nira</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;LONTAR Multiguna, dari Akar hingga Nira &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pohon lontar yang bermanfaat dari akar hingga niranya, seharusnya berkesempatan untuk dikembangkan sehingga bernilai ekonomi tinggi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;HEMBUSAN angin kering terasa keras menerpa dedaunan yang gugur di sepanjang jalan lintas Pelabuhan Pantai Baru menuju Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gugusan bukit menjulang dan kawasan ladang serta sawah tadah hujan yang tandus silih berganti mewarnai perjalanan, Sabtu (15/11) siang. Kondisi itu berbeda dengan ribuan pohon lontar yang tumbuh di antara rumah penduduk. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Lontar (Borassus flabellifer) memang umumnya tumbuh subur dan melimpah di tanah tandus di lingkungan tropis seperti di Pulau Rote dan Sabu. &lt;br /&gt;Di musim panas yang identik dengan paceklik, warga memanfaatkan nira, hasil sadapan lontar, untuk diminum. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Minum nira dipercaya membuat orang bertahan terhadap lapar. Rasanya manis bercampur asam, disertai aroma khas. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Satu pohon lontar dapat menghasilkan sekitar enam liter nira tiap hari. Daging buah lontar setengah tua dijadikan makanan ternak. &lt;br /&gt;Nira bisa dimasak menjadi gula air atau disebut juga dengan tuak nasu. Gula air berwarna kuning kecokelatan. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bila gula air dimasak hingga kering dan dibentuk lempengan akan disebut gula lempeng. Bisa juga nira yang dikeringkan tersebut dihaluskan menjadi tepung. Gula yang dihaluskan itu dinamai gula semut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Selain itu, nira juga bisa dijadikan cuka atau kecap. &lt;br /&gt;Produk-produk yang berbahan baku nira itu sudah beredar di pasar tradisional hampir seluruh wilayah NTT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadap &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tradisi warga yang mendiami Pulau Rote ketika musim paceklik (Juli hingga November) adalah menyadap nira. Seperti diakui Zakaris, 48, warga Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;"Di pagi hari, biasanya orang dewasa di kampung cukup minum gula yang diaduk bersama air. Siangnya baru makan nasi," katanya. &lt;br /&gt;Biasanya, nira banyak disadap pada Juli hingga November. Hasilnya, sebagian dijual dengan harga Rp15 ribu per liter. Sisanya, untuk persediaan musim paceklik. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setiap pagi, lelaki yang hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar itu memanjat pohon lontar dengan membawa alat sadap yang disebut haik (wadah setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar) untuk menampung nira. Keesokan harinya, Zakaris mengambil haik yang sudah dipenuhi nira, dan menggantinya dengan haik yang baru. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Nira tersebut kemudian diolah oleh kaum perempuan untuk dijadikan gula air, gula lempeng, gula semut, kecap, atau cuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernilai ekonomi tinggi &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saat ini terdapat sedikitnya 792.748 pohon lontar penghasil nira yang tumbuh tersebar di desa-desa di pulau paling selatan di Indonesia tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Jika ribuan pohon itu menghasilkan minimal 60% gula, produksi gula dalam satu musim menyadap berjumlah 28.538.880 liter. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penelitian Rosdiati Napitupulu dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, nira berasal dari lontar masih bisa dikembangkan untuk menciptakan kegiatan produktif yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, asam asetat, gliserin, dan nata de nira. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Dia, nata yang terbut dari nira lontar, lebih mudah dan cepat membentuk biomassa jika dibandingkan dengan nata yang terbuat dari kelapa (nata de coco). &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Nata merupakan bioselulose hasil fermentasi yang menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Sedangkan nata de nira merupakan makanan penyegar dan pencuci mulut berkalori tinggi. &lt;br /&gt;"Wilayah Nusa Tenggara Timur sangat berpotensi untuk pengembangan agroindustri dan agrobisnis mengingat produksi bahan dasar yang sangat melimpah khususnya nira lontar dan nira kelapa yang masih belum dimanfaatkan secara optimal," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesehatan &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penduduk yang bermukim di sentra-sentra lontar telah memanfaatkan bagian tanaman itu untuk mengobati berbagai jenis penyakit. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Bagian buah tua untuk obat kulit (dermatitis), akar yang terdiri dari ekstrak akar muda untuk melancarkan air seni dan obat cacing. Sedangkan rebusan akar muda (decontion) untuk mengobati penyakit yang terkait dengan pernapasan. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Manfaat bagian bunga lontar atau abu mayang (spadix) dipercaya untuk pengobatan sakit lever. Adapun arang kulit batang digunakan untuk menyembuhkan sakit gigi, dan rebusan kulit batang ditambah garam, berkhasiat sebagai obat pembersih mulut. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Selama ratusan tahun pula, daun lontar berfungsi sebagai kertas, bahan anyaman, serta kotak musik pada alat musik sasando. &lt;br /&gt;&lt;p&gt;Berbagai manfaat lontar tersebut sebagian besar tidak ada tindak lanjutnya walaupun sudah dilakukan sejumlah penelitian. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Karena itu, Rosdiati Napitupulu merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Rote Ndao untuk mendorong terus dilakukan pengembangan manfaat pohon lontar, dari akar hingga niranya, agar memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi pemiliknya. &lt;br /&gt;Pada akhirnya lontar diharapkan akan menjadi salah satu andalan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) pada kabupaten yang telah berpisah dari Kupang sejak lima tahun lalu itu. (N-1)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDUzODM=&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2590407398335217884?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2590407398335217884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2590407398335217884' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2590407398335217884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2590407398335217884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/lontar-multiguna-dari-akar-hingga-nira.html' title='LONTAR Multiguna, dari Akar hingga Nira'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-713974121017191796</id><published>2009-01-02T18:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:22:59.936-08:00</updated><title type='text'>Geliat Masyarakat Berbudaya Lontar (Siwalan)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Geliat Masyarakat Berbudaya Lontar (Siwalan)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;BEGITU menyebut Rote Ndao, yang terbayang adalah pohon lontar (Borassus flabelliber) dan geliat warganya mendayagunakan habis seluruh potensi ekonomis pohon itu, dari akar hingga pucuknya. Warganya merupakan basis masyarakat yang berbudaya lontar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tidak ada bagian dari lontar yang tidak digunakan. Seni musik masyarakat di daerah ini, misalnya, juga diekspresikan lewat lontar. Bagian yang memberi ruang resonansi pada sasando (alat musik petik tradisional Nusa Tenggara Timur asal Rote Ndao) terbuat dari daun lontar.&lt;br /&gt;Sejak berabad-abad silam, lontar pun telah menjadi semacam "pohon kehidupan" yang memberi napas hidup pada masyarakat Rote Ndao. Selain sumber pangan, sarana bantu kesehatan, dan stationery, lontar adalah sumber uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, tandan bunga lontar selain bisa digunakan untuk obat pegal linu, lebih sering disadap untuk diambil niranya, yang merupakan hasil utama dan berguna untuk pembuatan gula serta minuman beralkohol. Buah muda terkadang juga dapat dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabut buah lontar biasanya digunakan sebagai pewangi dalam pembuatan kue, tetapi sedikit sekali warga yang melihat peluang ini. Batang dan daunnya biasa digunakan sebagai bahan utama bangunan rumah dan itu merupakan kebiasaan turun-temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pada zaman modern orang menggunakan lem sintetis, penduduk Rote Ndao sudah sejak dahulu kala menggunakan getah lontar sebagai perekat. Daun lontar, selain untuk atap rumah, juga digunakan sebagai bahan baku produk utama anyaman dan kipas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, di antara banyak produk olahan pohon lontar atau siwalan ini, hanya ada satu hal yang tidak pernah bergeser, yakni nira dan produk turunannya berupa gula cair (penduduk lokal menyebutnya gula air) dan gula padat (gula batu/lempeng).&lt;br /&gt;Ketika perekat digantikan oleh lem sintetis, bahan bangunan beralih ke seng dan semen, obat pegal linu dan pewangi digeser oleh produk industri, nira dan gula tetap menjadi primadona. Nira dan gula menerobos hingga kota kabupaten dan provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINGGA kini kehidupan masyarakat Rote Ndao masih sangat bergantung pada kemurahan alam pohon lontar. Setiap musim paceklik tiba, hampir bersamaan dengan datangnya kemarau pada April-November, nira/gula menjadi penopang hidup mereka.&lt;br /&gt;Jika haus dan lapar, biasanya mereka meminum nira dan air gula (air yang diaduk dengan dua-tiga sendok makan gula cair atau gula semut). Air gula untuk menahan rasa lapar. Dengan pola sekali makan dalam sehari, bahan makanan yang diperoleh dari hasil menjual gula dan nira hanya dimakan malam hari atau siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Rote Ndao, seperti juga di Sabu, lebih banyak minum dibandingkan dengan makan. Kebiasaan ini terjadi karena tanaman pangan dan ternak umumnya mati pada saat kemarau panjang. Kabupaten paling selatan di Indonesia, yang dekat dengan Australia, ini gersang dan tandus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman pangan dan hortikultura yang diusahakan di sini biasanya jagung, padi ladang, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Ternak besar dan kecil berupa sapi, kuda, kambing, dan paling banyak domba. Rote sering dijuluki pulau domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tanaman pangan dan hortikultura yang tumbuh di musim hujan yang singkat (sekitar 3-4 bulan) biasanya dirobohkan oleh badai atau siklon tropis yang pasti datang setiap tahun. Selama musim hujan ini, badai sudah dua kali melanda NTT, termasuk Rote Ndao.&lt;br /&gt;Itu sebabnya dalam berbagai literatur yang ditulis oleh cendekiawan Barat tentang penduduk Rote, Ndao, Sabu, dan masyarakat berbudaya lontar lainnya, mereka dikategorikan sebagai non-eating people. Kehidupan masyarakatnya amat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak gong persiapan sebagai daerah otonom atau kabupaten definitif ditalukan lebih kencang pada tahun 2001, hingga akhirnya dikukuhkan pada tahun 2002, rentang kendali wilayah semakin pendek. Penduduk miskin mulai lebih cepat diperhatikan.&lt;br /&gt;Geliat ekonomi masyarakat baru mulai terasa bersamaan dengan pembukaan isolasi wilayah yang saat ini sedang dikerjakan di poros utama yang menghubungkan Pantai Baru, Baa, Batutua, dan Fapela (80,2 kilometer). Pantai Baru menjadi pintu masuk jalur laut, yang biasa didatangi feri dua kali sehari dari Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markus DM Welkis dan Jonny Y Amalo, dua pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, mengatakan, pembukaan isolasi wilayah ini sangat penting bagi kemajuan wilayahnya. Sebab, sarana transportasi darat di sini masih serba terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welkis, yang menjabat Sekretaris Kabupaten Rote Ndao, menjelaskan, sebagai sebuah kabupaten baru, Rote Ndao sedang memfokuskan perhatian pada sektor kelautan dan perikanan untuk memberi ruang pada budidaya rumput laut dan budidaya ikan. Juga tidak ketinggalan peternakan, pertanian, kehutanan, dan pariwisata.&lt;br /&gt;Itulah sektor-sektor unggulan yang akan menguras anggaran daerah di pos pembangunan fisik. Jika direncanakan dengan baik, sektor kelautan dan perikanan serta pariwisata memiliki peluang sangat menjanjikan di sini dibandingkan sektor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nembrala, Bo’a, Deseli, dan Fapela adalah obyek-obyek wisata andalan di sini, bahkan di NTT. Nembrala, misalnya, memiliki garis pantai sekitar lima kilometer yang bebas polusi dan berpasir putih. Gelombang lautnya terbaik di kelas dunia untuk berselancar.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hanya karena isolasi wilayah dan miskin promosi, potensi itu jarang dikenal. Masih sedikit pula petani dan nelayan yang membudidayakan rumput laut. Nelayannya pun masih tradisional. Warga masih tetap hidup dari pohon lontar. (Kompas - Pascal SB Saju)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://arengasugar.multiply.com/journal/item/100/Geliat_Masyarakat_Berbudaya_Lontar&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-713974121017191796?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/713974121017191796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=713974121017191796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/713974121017191796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/713974121017191796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/geliat-masyarakat-berbudaya-lontar.html' title='Geliat Masyarakat Berbudaya Lontar (Siwalan)'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-7070792685789020161</id><published>2009-01-02T18:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:09:29.694-08:00</updated><title type='text'>Di Pulau Sabu Kupang Nira Lontar Akan Diolah Jadi Bioetanol</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Di Pulau Sabu Kupang Nira Lontar Akan Diolah Jadi Bioetanol&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh : ORANIS HERMAN &amp;amp; ARRY RIWU ROHI – Kupang&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Sumber daya di pulau Sabu sangat banyak. Namun, semuanya itu belum diolah secara baik. Buktinya, di Sabu pohon lontar sangat banyak. Selama ini masyarakat hanya memanfaatkan dan diolah menjadi gula. Namun, sudah ada investor yang berminat akan mengolahnya menjadi bioetanol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA sudah berjanji kepada masyarakat di Sabu bahwa komoditi lontar, kita akan memasukan investor untuk mengolah lontar menjadi bioetanol. Memang, tahun lalu saya sudah keluarkan izin untuk investor dari Surabaya masuk ke Sabu untuk mengolah lontar menjadi bioetanol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemarin saya kesana, saya lihat antusias masyarakat sangat besar, setelah saya sosialisasikan menyangkut konversi lontar nira ke bioetanol. Masyarakat sangat antusias sekali dan karenanya saya dalam waktu dekat akan mendorong investor yang bersangkutan agar segera membuka usahanya untuk mengolah nira menjadi bioetanol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kita semua ketahui bahwa potensi lontar yang ada di pulau Sabu termasuk Raijua, tidak kurang dari 1 juta pohon yang produktif. Teman-teman bayangkan saja kalau 1 juta pohon itu produksi, akan menghasilkan bioetanol yang sangat banyak sekali. Karena konvensinya, 1 liter bioetanol didapat dari 10 liter nira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari satu pohon lontar bisa menghasilkan lebih kurang 10 liter nira. Saya kemarin tanya sendiri penyadap lontarnya. Saya datang kesana, saya suruh mereka turunkan nira dari pohonnya. Disitu kita buktikan bahwa satu pohon itu hasilnya sebenarnya belasan liter nira dalam sehari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kita ambil angka yang konservatif saja, katakanlah hanya 10 liter per hari, maka satu pohon lontar menghasilkan 1 liter bioetanol per hari. Bayangkan kalau 1 juta pohon berproduksi. Atau kita ambil setengahnya saja, 500 ribu pohon yang berproduksi dalam sehari, maka satu hari Sabu menghasilkan 500 ton bioetanol. Ini cukup besar sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah 500 ton, katakan saja 250 ton per hari, itu sudah besar sekali bioetanol yang dihasilkan di Sabu. Saya perkirakan, kalau Sabu itu kita eksploitasi dia punya nira menjadi bioetanol, maka Sabu termasuk salah satu daerah penghasil bioetanol terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;Pasarnya cukup kuat bioetanol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pertamina pun menerima bioetanol sebagai penambah bahan bakar bensin untuk menaikan oktan dari pada bensin. Kalau bensin itu oktannya dibawah 100, kalau ditambah bioetanol, maka oktannya lebih dari 100 dan harganya lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau rubah nira menjadi bioetanol, itu sangat menguntungkan masyarakat. Karena, masyarakat hari itu dia panen, hari itu juga dia dapat uang. Karena, hari itu dia setor niranya ke pabrik, hari itu juga dibayar niranya. Kalau dia harus olah lagi niranya, dia harus mendatangkan kayu. Justru budaya memasak gula inilah yang menyebabkan kita susah untuk menambah jumlah tanaman kayu-kayuan di Sabu. Karena, kayunya habis untuk bakar-membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dengan merubahnya menjadi bioetanol, tidak ada satu pohon kayupun yang dipakai untuk memasak gula. Memang, masyarakat tetap akan memasak gula, tetapi jumlahnya menurun sangat drastis sekali karena guna yang mereka masak hanya spesial untuk rumah tangga mereka saja&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&amp;amp;nid=26302&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-7070792685789020161?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/7070792685789020161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=7070792685789020161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7070792685789020161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7070792685789020161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/di-pulau-sabu-kupang-nira-lontar-akan.html' title='Di Pulau Sabu Kupang Nira Lontar Akan Diolah Jadi Bioetanol'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-5752527279457863606</id><published>2009-01-02T17:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T17:53:46.648-08:00</updated><title type='text'>Orang Sabu Makan Cacing Laut dan Gula Lontar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh6.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaZ55PIHcI/AAAAAAAAALk/dlkLMpqjwKg/s640/S1054339.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 640px; height: 480px;" src="http://lh6.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaZ55PIHcI/AAAAAAAAALk/dlkLMpqjwKg/s640/S1054339.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaHU6ohshI/AAAAAAAAAH0/bS9eaT2X-2s/s640/S1053924.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 640px; height: 480px;" src="http://lh3.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaHU6ohshI/AAAAAAAAAH0/bS9eaT2X-2s/s640/S1053924.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh3.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaaNjcy0pI/AAAAAAAAAMc/_wwmIetEulk/s640/S1054349.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 640px; height: 480px;" src="http://lh3.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaaNjcy0pI/AAAAAAAAAMc/_wwmIetEulk/s640/S1054349.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh5.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaZ_9-fhaI/AAAAAAAAAL0/dEuyGCJYpdk/s640/S1054342.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 640px; height: 480px;" src="http://lh5.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaZ_9-fhaI/AAAAAAAAAL0/dEuyGCJYpdk/s640/S1054342.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Orang Sabu Makan Cacing Laut dan Gula Lontar &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hari Suroto-Indosmarin.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 184px;" src="http://www.indosmarin.com/wp-content/uploads/2008/06/lontar.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;Makassar - Namun dari Sabu, kita tidak hanya mengenal kegarangan. Sabu adalah kisah sebuah pulau terpencil yang begitu penuh dengan cerita menarik tentang pohon lontar atau Borassus sundaicus Beccari. Dalam filosofi Sabu, pohon lontar merupakan bagian penting dalam kehidupan mereka, makanan, tempat tinggal, peralatan hidup sehari-hari bahkan sesudah matipun orang Sabu dikuburkan dan dikenang dengan hasil-hasil dari pohon lontar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan pokok orang sawu adalah sirup lontar yakni gula hasil sadapan mayang pohon lontar. Makanan lain yang merupakan suatu hidangan bagi penduduk sabu adalah sejenis cacing laut Leodice Viridis yang sering disebut Nyale. Cacing-cacing ini muncul dalam jumlah besar di pantai selatan. Orang Sabu mengkonsumsinya dengan cara diasami dengan cuka lontar kemudian dimakan sedikit-sedikit sebagai perangsang selera, barang kali dengan arak, nyale adalah makanan yang lezat(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. http://www.indosmarin.com/20080616-orang-sabu-makan-cacing-laut-dan-gula-lontar.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. http://picasaweb.google.com/lh/photo/pw_rwezBUMU1jvSZPADhlQ&lt;/p&gt;foto: http://www.geocities.com/kmpaganeshaitb/lontar.JPG&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-5752527279457863606?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/5752527279457863606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=5752527279457863606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/5752527279457863606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/5752527279457863606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/orang-sabu-makan-cacing-laut-dan-gula.html' title='Orang Sabu Makan Cacing Laut dan Gula Lontar'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_hC5yrIn4CaU/SIaZ55PIHcI/AAAAAAAAALk/dlkLMpqjwKg/s72-c/S1054339.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-3071895419276144251</id><published>2009-01-02T17:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T17:30:25.986-08:00</updated><title type='text'>Penyadapan Pohon Siwalan</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Penyadapan Pohon Siwalan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber Foto : http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/index.html&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 354px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/Palm.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 378px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/Ascend.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 291px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/tanghaik.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 281px; height: 221px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/SwingUp.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 378px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/remove.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 310px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/BigHaik.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 201px; height: 265px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/clean.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 308px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/HangHaik.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 216px; height: 298px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/potong1.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 316px; height: 309px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/potong2.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 378px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/Retying.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/Down.jpeg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 378px;" src="http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/images/Down.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-3071895419276144251?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/3071895419276144251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=3071895419276144251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3071895419276144251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/3071895419276144251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/penyadapan-pohon-siwalan.html' title='Penyadapan Pohon Siwalan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-7602141729463126096</id><published>2009-01-02T17:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T17:16:29.241-08:00</updated><title type='text'>Siwalan atau Lontar di Pantai Lasianan Kupang NTT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/04/pohon-lontar-di-lasiana.gif"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 378px;" src="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/04/pohon-lontar-di-lasiana.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Pantai dengan pohon Siwalan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;untuk Obyek Wisata Pantai di pantai Lasiana Kupang NTT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tepi pantai masih terdapat ratusan pohon “tuak” alias pohon lontar berbaris tegak. Pohon-pohon ini secara rutin disadap untuk diambil niranya atau disebut “iris tuak” oleh orang Kupang. Aktivitas iris tuak oleh warga suku Rote, ini menjadi suguhan menarik, karena sekaligus sebagai “atraksi” pariwisata tanpa perlu agenda khusus yang menelan biaya. Turis bisa menikmati sedapnya nira lontar atau “tuak” dalam istilah orang Rote, yang baru disadap. Rasanya manis, asam, dan agak sepat. Akh, sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apalagi nira yang baru disadap, warnanya agak merah dan rasanyasangat manis, seperti air gula.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Hasil sadapan nira atau tuak itu dimasak di tungku tanah menggunakan periuk tanah. Hasilnya adalah gula lontar yang manis rasanya. Aktivitas ini bisa menjadi “jualan” menarik bagi turis asing.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Andai ada investor yang bisa diajak untuk mengembangkan Pantai Lasiana, akan ada banyak benefit yang bisa diperoleh. Di antaranya, pertama, warga Kota Kupang bisa menikmati tempat rekreasi yang representatif. Kedua, Kota Kupang memiliki sebuah lokasi pariwisata yang benar-benar bisa diandalkan sekaligus menambah pundi-pundi pendapatan asli daerah. Ketiga, tingkat perekonomian masyarakat setempat bisa ditingkatkan. Keempat, dengan vegetasi (hutan mangrove) yang sudah dipulihkan (mungkin 10 tahun ke depan), hasil tangkapan nelayan setempat bisa kembali meningkat. Tapi siapa yang bisa menjual potensi itu?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://eddymesakh.wordpress.com/2008/04/01/pantai-lasiana-riwayatmu-kini/248/&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 111px;" src="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/04/pantai-lasiana.gif?w=421&amp;amp;h=184" border="0" alt="" /&gt;  &lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 227px; height: 339px;" src="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/04/wisatawan-lokal.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-7602141729463126096?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/7602141729463126096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=7602141729463126096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7602141729463126096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7602141729463126096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2009/01/siwalan-atau-lontar-di-pantai-lasianan.html' title='Siwalan atau Lontar di Pantai Lasianan Kupang NTT'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2417203259704897666</id><published>2008-12-28T03:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T03:03:35.336-08:00</updated><title type='text'>Air siwalan obat kecing manis</title><content type='html'>Air siwalan obat kecing manis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah siwalan memiliki nama latin borassus, pohon siwalan masih tergolong tumbuhan palma yang banyak tumbuh di asia tenggara dan asia selatan. Daunnya dikenal dengan nama daun lontar. Di Indonesia, pohon ini tumbuh subur di bagian timur pulau jawa, Madura, bali, NTB dan NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon siwalan sangat kuat dan kokoh dengan tinggi mencapai 15 – 30 meter. Dengan diameter batang sekitar 60 cm, siwalan memiliki daun besar, terkumpul di ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Helaian daun berupa kipas bundar berdiameter hingga 1,5 meter. Tangkai daun mecapai panjang 1 meter, dengan pekepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya, sisi tangkai dengan deretan duri berujung dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalan memiliki karangan bunga dalam tongkol 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm. buahnya bergerombol dalam tandan bisa mencapai 20 butir dengan bentuk bulat peluru berdiameter 7 – 20 cm. buahnya hitam kecokelatan kulitnya dan kuning daging buahnya bila tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian utama yang diambil manfaatnya bagi masyarakat adalah buahnya. Daging buah yang tua kekuningan dan berserat dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Sedangkan cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran bahan kue atau dibuat menjadi selai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat tuban dan sekitarnya, air inilah yang banyak digunakan sebagai air pengobatan. Masyarakat menyebutnya dengan air legen. Air ini manpu menyembuhkan penyakit sariawan, caranya hanya dengan meminumnya di kala penyakit panas dalam menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, legen juga manpu menyembuhkan beragam penyakit organ dalam seperti stroke, liver, kanker dan kencing manis. cukup minun segelas air legen pagi dan sore semua penyakit rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air legen biasa pula dibuat tuak dengan cara difermentasi. Bahan bakunya diambil dari nira pohon siwalan kemudian diolah selama 10 hari dengan proses fermentasi, maka terbentuklah tuak. Bagi masyarakat tuban, tuak dipercaya sebagai obat penambah vitalitas bagi pria dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminun tuak untuk memulihkan keperkasaannya. Cara ini sudah dikenal luas oleh masyarakat tuban. Buah siwalan juga dikenal untuk memperkuat sperma. Cukup dimakan biasa buahnya atau dicampur dengan es campur atau sirup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://1paranormal.com/air-siwalan-o...ing-manis.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2417203259704897666?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2417203259704897666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2417203259704897666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2417203259704897666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2417203259704897666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/12/air-siwalan-obat-kecing-manis.html' title='Air siwalan obat kecing manis'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2600344831866857850</id><published>2008-12-26T10:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T10:27:32.442-08:00</updated><title type='text'>Bioetanol dari Pohon Lontar (dan Aren)</title><content type='html'>Bioetanol dari Pohon Lontar (dan Aren)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Himpunan Alumni IPB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang ter- dapat di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan beberapa daerah lainnya di Tanah Air, ternyata nilai ekonominya cukup tinggi. Tidak hanya daunnya yang bisa dimanfaatkan untuk atap rumbia atau batangnya untuk bahan bangunan, nira yang dihasilkan lontar, juga sangat besar manfaatnya. Pohon lontar ternyata bisa dimanfaatkan untuk pembuatan bioetanol untuk alkohol medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah nira hanya dimanfaatkan untuk mem- buat gula merah atau sekadar diminum sebagai tuak. Namun, nira bisa lebih bernilai ekonomi tinggi, jika diolah dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang ingin ditunjukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan bekerja sama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao, dan Badan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Belu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya kerja sama yang dilakukan adalah pengembangan usaha di bidang produksi bioetanol untuk alkohol medik yang diperoleh dari nira lontar. Kegiatan pengembangan unit usaha produksi bioetanol untuk alkohol medik dari nira lontar bertujuan untuk memproduksi bahan bio medika untuk penyediaan kebutuhan rumah sakit, klinik pengobatan, puskesmas, apotek, laboratorium penelitian, penyedia bahan kimia, dan bioenergi bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipilihnya Provinsi NTT sebagai lokasi kerja sama proyek bioetanol dari lontar, karena daerah timur Indonesia itu, selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan tanaman lontar. Secara tradisional, tanaman ini oleh penduduk setempat dipergunakan sebagai bahan dalam pembuatan minuman beralkohol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tradisional tersebut merupakan dasar untuk melangkah menuju proses pembuatan bioetanol. "Kami memang memiliki proyek pengembangan bioetanol dari bahan bakar lontar di NTT," ujar Murti Martoyo, Kepala Hubungan Masyarakat LIPI kepada SP, Jumat (31/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasok untuk Dunia &lt;br /&gt;Sementara itu, di tempat terpisah, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Prabowo Subianto, menyatakan, cadangan minyak di perut bumi semakin menipis. Sementara, kebutuhan energi dunia terus meningkat. Sejumlah negara maju yang haus pasokan energi telah mulai menyadari untuk beralih ke bahan bakar nonfosil. Bahan bakar nabati, yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan, menjadi pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti halnya minyak bumi, bahan bakar nabati tidak mudah diperoleh. Negara-negara yang tinggi kebutuhan energinya, seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa, belum tentu mampu memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi investasi, tak diragukan, tak ada masalah bagi negara-negara maju untuk mengembangkan bahan bakar nabati. Masalah, justru ada pada ketersediaan bahan baku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman sebagai bahan baku bahan bakar nabati, seperti kelapa sawit, jarak, jagung, ubi kayu, aren, dan sagu, justru mudah dijumpai di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari potensi tersebut, secara gencar, sejak beberapa tahun lalu HKTI telah mengampanyekan perlunya pengembangan bahan bakar nabati. Organisasi nirlaba ini memilih pohon aren sebagai bahan baku bioetanol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2002, HKTI mengembangkan "perkebunan" aren di beberapa wilayah di Sulawesi. Saat ini, yang telah diuji coba untuk menghasilkan bioetanol baru di Minahasa, Sulawesi Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prabowo, dibanding tanaman sumber energi lainnya, pohon aren memiliki lebih banyak keunggulan. "Pohon aren mudah ditemukan, menyebar luas di semua wilayah Indonesia. Pengembangan aren untuk bahan bakar tidak berbenturan dengan kepentingan pangan. Selain itu, produksi bahan bakar dari aren tidak mengganggu aspek lingkungan, karena pohon aren bisa tumbuh berdampingan dengan tanaman lain," kata Prabowo di sela- sela dialog dengan sekitar 1.000 petani di Salatiga, Jawa Tengah, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bagian dari tanaman aren dapat dimanfaatkan. Bioetanol dihasilkan dari nira atau getah aren. Di Indonesia bioetanol dari aren, sebenarnya telah puluhan tahun dikembangkan. Namun, sejauh ini belum ada yang memproduksinya secara komersial, karena bahan baku yang digunakan juga hanya mengandalkan dari pohon aren yang tumbuh liar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Menunggu &lt;br /&gt;Pohon aren mudah tumbuh dan menyebar luas di wilayah perbukitan, pegunungan dan lembah. Tidak harus ditanam pada tanah yang khusus dan tidak memerlukan pemeliharaan intensif. Di Indonesia diperkirakan terdapat sejumlah titik sebaran pohon aren dengan perkiraan areal sekitar 65.000 hektare. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minahasa merupakan salah satu penghasil nira aren yang tersohor. Apalagi, secara turun temurun masyarakat di Minahasa memiliki keahlian mengolah nira aren menjadi etanol, dengan peralatan sangat sederhana. Etanol yang dihasilkan dari nira aren ini diolah menjadi minuman keras khas Minahasa yang dikenal dengan sebutan "cap tikus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil uji coba HKTI di Minahasa, dari satu pohon aren (Arenga pi�ata) dapat diperoleh sekitar 15-20 liter nira per hari. Satu hektare lahan dapat ditanami sekitar 671 pohon aren, dan setidaknya sebanyak 70 pohon akan berproduksi sepanjang tahun. Sedangkan sisanya, jika dalam satu tahun, satu pohon disadap selama 200 hari, maka total nira yang dihasilkan mencapai 3.000-4.000 liter per pohon. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol diperlukan sekitar 15 liter nira, sehingga setiap pohon aren akan menghasilkan, sekitar 200 liter etanol per tahun. Bila seluruh sebaran pohon aren di Minahasa saja diolah menjadi bioetanol, dalam satu tahun akan dihasilkan setidaknya 400 juta liter bahan bakar yang ramah lingkungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prabowo, HKTI akan segera mengembangkan bioetanol dalam skala industri. Mengenai investasi, sejumlah lembaga keuangan internasional telah menyatakan siap membiayai. Untuk membangun satu pabrik bioetanol dengan kapasitas 500 ton per hari diperlukan investasi sekitar US$ 17 juta. "Beberapa investor dari Kanada, Amerika Serikat, dan Brasil siap mendanai. Bahkan, negara-negara itu siap membeli produksi bioetanol kita. Jadi, kalau di dalam negeri tidak ada yang mau membeli, tidak perlu khawatir karena pasar luar negeri sudah menunggu dan siap memborong produk bioetanol kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar Eropa, beberapa waktu lalu harga bioetanol sekitar 600 Euro per ton. Ini potensi devisa yang luar biasa, karena kita memiliki potensi memproduksi bioetanol dalam skala besar," kata Prabowo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2600344831866857850?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2600344831866857850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2600344831866857850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2600344831866857850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2600344831866857850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/12/bioetanol-dari-pohon-lontar-dan-aren.html' title='Bioetanol dari Pohon Lontar (dan Aren)'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-6438275789844028063</id><published>2008-11-23T14:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T14:53:05.368-08:00</updated><title type='text'>Siwalan (Borassus flabellifer)</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Siwalan (Borassus flabellifer) &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siwalan Dari Wikipedia bahasa Indonesia&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Borassus flabellifer&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Klasifikasi ilmiah&lt;br /&gt;Kerajaan: Plantae&lt;br /&gt;Divisi: Angiospermae&lt;br /&gt;Kelas: Monocotyledoneae&lt;br /&gt;Ordo: Arecales&lt;br /&gt;Famili: Arecaceae (sin. Palmae)&lt;br /&gt;Genus: Borassus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalan (juga dikenal dengan nama pohon lontar atau tal) adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di banyak daerah, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama yang mirip seperti lonta (Min.), ental (Sd., Jw., Bal.), taal (Md.), dun tal (Sas.), jun tal (Sumbawa), tala (Sulsel), lontara (Toraja), lontoir (Ambon). Juga manggita, manggitu (Sumba) dan tua (Timor).[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon palma yang kokoh kuat, berbatang tunggal dengan tinggi 15-30 m dan diameter batang sekitar 60 cm. Sendiri atau kebanyakan berkelompok, berdekat-dekatan.&lt;br /&gt;Daun-daun besar, terkumpul di ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Helaian daun serupa kipas bundar, berdiameter hingga 1,5 m, bercangap sampai berbagi menjari; dengan taju anak daun selebar 5-7 cm, sisi bawahnya keputihan oleh karena lapisan lilin. Tangkai daun mencapai panjang 1 m, dengan pelepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya; sisi tangkai dengan deretan duri yang berujung dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan bunga dalam tongkol, 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm.[2] Buah-buah bergerombol dalam tandan, hingga sekitar 20 butir, bulat peluru berdiameter 7-20 cm, hitam kecoklatan kulitnya dan kuning daging buahnya bila tua. Berbiji tiga butir dengan tempurung yang tebal dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan dan media penulisan naskah lontar. Barang-barang kerajinan yang dibuat dari daun lontar antara lain adalah kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor.&lt;br /&gt;Sejenis serat yang baik juga dapat dihasilkan dengan mengolah tangkai dan pelepah daun. Serat ini pada masa silam cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan.&lt;br /&gt;Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) disadap orang nira lontar. Nira ini dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol buatan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buahnya juga dikonsumsi, terutama yang muda. Biji yang masih muda itu masih lunak, demikian pula batoknya, bening lunak dan berair (sebenarnya adalah endosperma cair) di tengahnya. Rasanya mirip kolang-kaling, namun lebih enak. Biji yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah siwalan” (nungu, bahasa Tamil). Adapula biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan yang biasa didapati dijual didaerah pesisir Jawa Timur, Paciran, Tuban. Rasa minuman es dawet siwalan ini terasa lezat karena gulanya berasal dari sari nira asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran penganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekologi dan penyebaran&lt;br /&gt;Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di bagian timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;Siwalan dapat hidup hingga umur 100 tahun atau lebih, dan mulai berbuah pada usia sekitar 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 373-376.&lt;br /&gt;Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 135.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-6438275789844028063?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/6438275789844028063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=6438275789844028063' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6438275789844028063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6438275789844028063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/siwalan-borassus-flabellifer.html' title='Siwalan (Borassus flabellifer)'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-557693411557165169</id><published>2008-11-23T00:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T15:12:53.682-08:00</updated><title type='text'>MENGHITUNG PRODUKSI NIRA SIWALAN</title><content type='html'>MENGHITUNG PRODUKSI NIRA SIWALAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi nira pohon Siwalan ternyata berfluktuasi,  pada bulan-bulan tertentu melimpah, dan pada saat yang lain surut atau istirahat.   Dari desa Boto Tuban Jawa Timur, penulis menggali data produksi nira Siwalan dari 2 (dua) orang petani Siwalan, yaitu Pak Sogi dan Pak Rosan.  Berikut ini cacatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata fluktuasi produksi nira Siwalan ini sangat dipengaruhi oleh siklus musim kemarau dan penghujan.   Memasuki musim penghujan seperti sekarang ini produksi nira Siwalan mulai menurun.  Pada bulan Januari, Pebruari dan Maret pohon Siwalan istirahat berproduksi, artinya produksi niranya hampir tidak ada, kalau toh ada pohon yang berproduksi paling tidak lebih dari 17,5 % dari pohon dewasa yang ada..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan April dan Mei musim hujan sudah berakhir, curah hujan sudah mulai kurang, sinar matahari sangat kuat memancarkan radiasinya dan angin lautnya juga semaki gencar membawa udara panas dan agak kering.  Pohon Siwalan mulai berproduksi lagi antara 20 % sampai dengan 40 % dari jumlah pohon dewasa.  Produksi nira dari pohon yang sudah berproduksi pada bulan April dan Mei ini rata-rata masih rendah, yaitu antara 1,5- 3 liter per pohon per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan Juni, Juli, Agustus sampai bulan September keadaan juga semakin kemarau, iklimnya panas anginnya juga kuat.  Pada saat seperti ini hampir semua pohon Siwalan yang dewasa mengeluarkan niranya.  Bisa dikatakan antara 80% sampai 100% dari pohon dewasa bisa diambil niranya.  Produktifitas niranya juga paling tinggi pada masa-masa seperti ini.   Dari sampel petani yang ada menunjukkan produktifitas nira dapat mencapai antara 3-6 liter per hari per pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian produktifitas berangsur menurun lagi memasuki bulan Oktober, November dan Desember,  prosentase jumlah pohon yang berproduksi juga menurun.  Produktifitas nira Siwalan setiap hari dari setiap pohon hanya mencapai anatar 1.5 – 3 liter.  Sedangkan prosentase jumlah pohonnya juga sudah menurun menjadi sekitar 20% sampai 50 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dia atas diambil  dari 2 orang petani Siwalan di Boto Tuban Jawa Timur.    Kalau disajikan dalam tabel kurang lebih menjadi data seperti di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  Fluktuasi produksi nira Siwalan setiap bulan selama setahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan   ----------Pohon yang produksi (%)  -----------Produksi Nira (liter/hari/pohon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari  -------- 0 – 17,5  %    --------------------------0.0 -  1,5&lt;br /&gt;Pebruari  ------  0 – 17,5  %    --------------------------0.0 -  1,5&lt;br /&gt;Maret    --------- 0 – 17,5  %    --------------------------0.0 -  1,5&lt;br /&gt;April   ----------20 – 40  %    ---------------------------1,5 – 3.0&lt;br /&gt;Mei   -----------20 – 40  %    ---------------------------1,5 – 3.0&lt;br /&gt;Juni    ---------- 80 – 100  %    --------------------------2.5  -  5.0&lt;br /&gt;Juli     -----------80 – 100  %    -------------------------- 2.5  -  5.0&lt;br /&gt;Agustus  ------ 80 – 100  %    -------------------------- 2.5  -  5.0&lt;br /&gt;September  --- 80 – 100  %    -------------------------- 2.5  -  5.0&lt;br /&gt;Oktober  ------ 20 – 50  %    --------------------------- 1,5 – 3.0&lt;br /&gt;November  ---- 20 – 50  %    --------------------------- 1,5 – 3.0&lt;br /&gt;Desember  -----20 – 50  %    --------------------------- 1,5 – 3.0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau setiap petani Siwalan memiliki 12 pohon, maka siklus dan jumlah produksi rata-ratanya adalah kurang lebih sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  Perkiraan produksi nira Siwalan setiap hari dari 12 pohon per petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan   -------- Pohon yang produksi (pohon) ---------Produksi Nira (liter/hari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari  ------  0 – 2  pohon    -------------------------- 0.0 -  3.0&lt;br /&gt;Pebruari  -----  0 – 2  pohon    -------------------------- 0.0 -  3.0&lt;br /&gt;Maret    -------   0 – 2  pohon    -------------------------- 0.0 -  3.0&lt;br /&gt;April   --------    2 -  5  pohon    ---------------------------3.0 – 15&lt;br /&gt;Mei   ---------    2 -  5  pohon    --------------------------- 3.0 -  15&lt;br /&gt;Juni    ---------   9 - 12 pohon    ------------------------   22.5 - 60&lt;br /&gt;Juli     ---------    9 - 12 pohon    ------------------------   22.5 - 60&lt;br /&gt;Agustus  ----     9 - 12 pohon    ------------------------   22.5 - 60&lt;br /&gt;September  --   9 - 12 pohon    ------------------------   22.5 - 60&lt;br /&gt;Oktober  ----     2 -  6  pohon    -------------------------     3.0 –18&lt;br /&gt;November  ---- 2 -  6  pohon    -------------------------     3.0 –18&lt;br /&gt;Desember  -----2 -  6  pohon    -------------------------     3.0 –18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka di atas sebenarnya masih terlalu kasar untuk diproyeksikan dalam skala lebih besar.  Misalkan kalau kita akan membangun kebun siwalan secara intensif dengan jarak 4 x 6 meter2, atau dengan populasi sebanyak 400 pohon per hektar.  Seandainya kita menggunakan angka di atas untuk proyeksi 400 pohon dalam setiap hektarnya, akan diperoleh angka kasar perkiraan produksi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  Perkiraan produksi nira Siwalan setiap hari dari 400 pohon per hektar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan   ------Pohon yang produksi    --Produksi Nira (liter/ha)             .&lt;br /&gt;                                                                    (per hari)             (per bulan)          .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari-----  0    –  70  pohon  --------0.0   -  105  --------0.0        -  3.150&lt;br /&gt;Pebruari  ---  0    –  70  pohon  --------0.0   -  105  --------0.0        -  3.150&lt;br /&gt;Maret    -----   0    –  70  pohon  --------0.0   -  105  --------0.0        -  3.150&lt;br /&gt;April   -----   80  -  160 pohon  -------140  -   480  ----- 4.200    -  14.400&lt;br /&gt;Mei   ------   80  -  160 pohon  ------  140  -   480  ----- 4.200    -  14.400&lt;br /&gt;Juni    -----  360-  400 pohon  ------  800  -   2000  -- 24.000  -   60.000&lt;br /&gt;Juli     -----   360-  400 pohon  ------  800  -   2000  -- 24.000  -   60.000&lt;br /&gt;Agustus  --360-  400 pohon  ------  800  -   2000  -- 24.000  -   60.000&lt;br /&gt;September360-  400 pohon  ------ 800  -   2000  -- 24.000  -   60.000&lt;br /&gt;Oktober  ---80  -  200 pohon  ------ 140  -   600  ----- 4.200    -   18.000&lt;br /&gt;November  -80  -  200 pohon  ------ 140  -   600  ----- 4.200    -   18.000&lt;br /&gt;Desember  -80  -  200 pohon  ------  140  -   600  ----- 4.200    -   18.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah-----------------------------------------      117.000  -  332.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari proyeksi data di atas, produksi kebun Siwalan yang luasnya sehektar  dengan populasi 400 pohon dapat diperkirakan akan menghasilkan nira Siwalan sebanyak antara 117.000 liter sampai dengan 332.500 liter per hektar per tahun.  Kalau dirata-rata produksi setiap hari  dari kebun se hektar adalah 325 - 923 liter/hari/hektar  atau kalau dihitung rata-rata dari setiap pohon  0.81 – 2.3 liter/hari/pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sangat menjanjikan, namun belum banyak orang yang berpikir untuk mengebunkan pohon yang relatif tahan terhadap kekeringan tersebut.  Malah dikatakan sangat cocok bila iklim di daerah penanamannya adalah kering.  Karena pada saat kemarau terbukti malah tinggi produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon ini adalah anugerah untuk daerah-daerah yang musim kemaraunya relatif panjang seperti di daerah Indonesia Bagian Timur, NTT, NTB, Ambon, Maluku, Pantai Utara Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Tenggara, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan nilai ekonominya?  Tentu saja akan tergantung dari permintaan pasar atau pasar mana yang dituju.  Kalau produknya hanya untuk minuman tuak tentu hal ini nggak ada prospek yang luas.  Kalau nira Siwalan ini diolah menjadi gula organik, sirup siwalan, dll. yang pemasarannya sangat luas bahkan sampai ke manca negara, tentu akan sangat menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung saja seandainya nilai jual nira Siwalan di tingkat petani itu Rp 1.000 per liter, maka potensi pendapatan pekebun Siwalan dengan kepemilikan 400 pohon atau 1 hektar adalah sekitar Rp 117 juta – Rp 332,5 juta per hektar per tahun.  Kalau harga nira di tingkat petani dihagai Rp 2.000 per liter, maka pendapatan petani akan mencapai Rp 234 juta – 665 juta.   Tentu ini pendapatan yang masih kotor, belum dikurangi biaya-biaya yang ditimbulkan selama setahun, seperti upah tenaga penyadap dan biaya operasional lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-557693411557165169?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/557693411557165169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=557693411557165169' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/557693411557165169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/557693411557165169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/menghitung-produksi-nira-siwalan.html' title='MENGHITUNG PRODUKSI NIRA SIWALAN'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-6230308516663067252</id><published>2008-11-22T15:00:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T15:06:42.844-08:00</updated><title type='text'>NGUNDUH TETESING WOLO SIWALAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQJL44SCI/AAAAAAAAAdM/CQGOiq-Sij8/s1600-h/Para-pejuang-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQJL44SCI/AAAAAAAAAdM/CQGOiq-Sij8/s320/Para-pejuang-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271621851321747490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQI3kaC4I/AAAAAAAAAdE/iaAcPWKpmpU/s1600-h/Pak-Sogi-%26-Pak-Rosan-Legen-.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQI3kaC4I/AAAAAAAAAdE/iaAcPWKpmpU/s320/Pak-Sogi-%26-Pak-Rosan-Legen-.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271621845867170690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQIkenSTI/AAAAAAAAAc8/DXXtk4DNxYM/s1600-h/Legen-Pahit-dituang-dari-bu.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQIkenSTI/AAAAAAAAAc8/DXXtk4DNxYM/s320/Legen-Pahit-dituang-dari-bu.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271621840742598962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQHx-lWRI/AAAAAAAAAc0/QZFaRi78i0E/s1600-h/Legen-%26-Tuak-Siwalan-dalam-.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQHx-lWRI/AAAAAAAAAc0/QZFaRi78i0E/s320/Legen-%26-Tuak-Siwalan-dalam-.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271621827186481426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGUNDUH TETESING WOLO SIWALAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Pak Sogi, petani Desa Boto Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban Jawa Timur, sosok petani yang memiliki lahan tegalan atau lahan kering yang memiliki 12 pohon Siwalan sudah menghasilkan.   Di lahannya Pak Sogi juga punya beberapa pohon Siwalan yang masih belum menghasilkan atau masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sogi dikenal sebagai petani yang ulet.  Bersama istrinya yang juga sangat rajin Pak Sogi setiap harinya pagi dan sore memanjat Legen Siwalan dan kemudian langsung memasarkannya di sekitar desanya sampai ke ibukota kecamatan Merakurak kepada para pelanggannya.   Legen adalah nira Siwalan yang masih baru dan tidak mengalami fermentasi lanjut sehingga rasanya masih manis.    Legen bisa berubah menjadi tuak  yang rasanya agak pahit karena sudah mengalami fermentasi lanjutan dan mengandung alkohol yang kadang bisa membuat mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sogi memang spesialis memproduksi Legen manis saja.  Petani Legen  memang sedikit lebih repot dari pada petani Tuak.   Repotnya adalah pada penyiapan bumbung penampung nira, membawanya ke atas pohon kemudian membawa hasil nira bersama bumbungnya yang lama turun ke bawah.  Repotnya masih bertambah dengan memndahkan nira dari bumbung ke jerigen atau botol-botol Aqua yang sudah disiapkan.  Bumbung-bumbung ini disebut dengan bethek.   Bethek penampung  legen ini harus dicuci dan disterilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya memang disini, kalau petani Tuak tidak perlu membawa bethek bila memanjat pohon dan memungut hasilnya.  Seperti Pak Rosan sang Petani Tuak, dia cukup membawa jerigen plastik dan sekaligus penyaringnya untuk memenjat naik ke atas pohon Siwalan.  Begitu sampai di atas pohon Pak Rosan melaksanakan pekerjaannya yaitu memindahkan nira yang sudah berupa Tuak Muda atau Tuak Manis ini dari bethek  atau bumbung penampung nira ke jerigen.  Bethek tidak perlu dibawa turun untuk dibersihkan, sebab sisa nira yang lama itulah yang bisa merangsang fermentasi sehingga bisa menjadi tuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pak Sogi yang spesialis Legen ini memang sudah punya banyak langganan.  Legen sangat enak kalau diminum langsung setelah baru diambil dari pohonnya.   Makanya, biasanya Pak Sogi dan istrinya selalu siap mengantar Legen dengan menggunakan sepeda motor saat itu juga.  Sebab kalau tidak langsung dikirim Legen bisa berubah rasa sedikit agak masam dan agak pahit setelah 4-5 jam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu Pak Sogi menerima SMS pesanan Legen Siwalan dari pelanggannya sebanyak 2 botol Aqua besar.  Harga legen sampai di tempat pembelinya adalah Rp 4.000,- per botol Aqua atau sebanyak 1,5 liter.  Pagi itu hasil panennya adalah hampir 10 liter dari 4 pohon yang dipanjatnya.   Nanti sore Pak Sogi harus akan memanjat lagi dan mengambil legennya.  Kalau sore hari biasanya ia memungut sekitar 5-6 liter dari 4 pohon yang ada wolonya.  Jadi setiap harinya pada bulan seperti ini akan dipungut sekitar 15 liter legen, atau sekitar 10 botol, dari 4 pohon.  Artinya rata-rata produksi niranya sekitar 3,75 liter per pohon per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat penulis mengunjungi kebun siwalan Pak Sogi dan Pak Rosan adalah pada tanggal 16 Bulan November 2008, yang sudah hampir memasuki musim penghujan, dimana produksi nira sudah mulai menurun.  Hari itu berarti Pak Sogi dapat menjual sekitar 10 botol legen ke pelanggannya.  Dari legen ini dia memperoleh Rp 40.000,- pada hari itu.  Ini lebih menguntungkan dari pada dijual di rumahnya atau dibeli oleh pedagang legen yang berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per botol Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Tuak harganya agak rendah yaitu sekitar Rp 1.500 per botol Aqua di tingkat petani.  Kalau di tingkat konsumen harga tuak ini sekitar Rp 3.000 per botol Aqua. Pagi hari itu Pak Rosan memanen Tuak agak sedikit sekitar 5 liter dari 4 pohon yang dipungutnya.  Padahal Pak Rosan memiliki pohon 12 pohon yang sudah menghasilkan.  Sorenya nanti akan dipungut sekitar 3 literan.  Jadi sehari pagi dan sore pada bulan-bulan seperti ini akan dihasilkan sekitar 8 liter dari 4 pohon, atau rata-rata 2 liter per pohon per hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau dibandingkan dari 2 (dua) orang petani ini, yaitu antara Pak Sogi yang menghasilkan Legen dan Pak Rosan yang menghasilkan Tuak, maka Pak Sogi lebih banyak penghasilannya.  Petani Legen nampaknya lebih sejahtera dibanding dengan rata-rata petani Tuak,  padahal jumlah pohon yang dimiliki sama yaitu 12 pohon.  Kalau dilihat dari etos kerjanya memang Petani Legen rata-rata lebih giat bekerja dan berusaha, jaringan pelanggannya juga lebih beragam dan rata-rata keyakinan agamanya juga lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pak Sogi sudah mulai ditembok dan berukuran besar.  Sedang rumah Pak Rosan masih belum ditembok dan agak kecil.  Pak Sogi juga mempunyai Mushollah di samping rumahnya.  Dan kelihatannya memang pergaulan Pak Sogi lebih luas dan lebih cair.  Jadi hampir bisa diambil kesimpulan bahwa Pak Sogi lebih sejahtera karena silaturahminya lebih luas sehingga rizkinya juga lebih banyak dan lebih berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberi rizki dari berbagai sumber, manusia bisa memperoleh rizki dengan usahanya dan dengan izinNya.   Siwalan adalah sumber rizki,  rizki yang semula bening dan jernih serta diberkahi,  selanjutnya jangan dinodai dengan menjadi bercampur dengan noda dosa yang kotor dan tidak diridloiNya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirulloh il ‘Azhiim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-6230308516663067252?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/6230308516663067252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=6230308516663067252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6230308516663067252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/6230308516663067252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/ngunduh-tetesing-wolo-siwalan.html' title='NGUNDUH TETESING WOLO SIWALAN'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSiQJL44SCI/AAAAAAAAAdM/CQGOiq-Sij8/s72-c/Para-pejuang-Siwalan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-323872524124260195</id><published>2008-11-21T15:23:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T14:59:10.680-08:00</updated><title type='text'>LEGEN DAN TUAK SIWALAN DARI TUBAN</title><content type='html'>MENGENALI SIWALAN  TUBAN&lt;br /&gt;mulai bonjor, centhak, wolo dan gathik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalan adalah tanaman jenis palma yang banyak tumbuh di daerah pesisir yang beriklim panas dan kering dengan hembusan angin laut yang sedikit kuat.   Tuban, Lamongan, Gresik, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso dan beberapa daerah sepanjang pantai utara (pantura) Pulau Jawa, adalah daerah endemik pohon Siwalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa petani Siwalan di Tuban, tepatnya adalah Pak Sogi dan Pak Rosan di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban Jawa Timur.  Dari dua orang nara sumber inilah tulisan ini bermula,  yang ternyata memiliki prospek yang cukup bagus juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalan di daerah Kabupaten Tuban seakan menjadi icon daerah ini.  Kota Tuban kadang sering disebut Kota Tuak, Kota Tuak Tuban.  Di beberapa penjuru kota Tuban banyak ditemui kerumunan orang di pinggir jalan yang duduk-duduk mengelilingi Jerigen Tuak,  dengan tuak yang tersaji di gelas-gelas para peminum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan antara Pakah dan Tuban terdapat banyak sekali deretan warung-warung yang menjual aneka produk Siwalan,  seperti Buah Siwalan yang dibungkus plastik, Legen atau Tuak yang dikemas dalam botol Aqua besar dan tanggung, bahkan jerigen yang sekitar 5 literan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu tuak ditampung dalam bumbung bambu yang panjangnya sekitar 150 cm yang disebut bonjor.   Bonjor terbuat dari bambu besar beberapa ruas, yang mana ruas-ruasnya yang menyekat dibuka sehingga ruas-ruasnya terbuka.  Bonjor ini biasanya bagian luarnya dililiti oleh anyaman daun siwalan yang melingkari bumbung bambu bonjor.  Bonjor bisa menampung sekitar 10-20 liter tuak atau legen.   Di ujung mulut bonjor biasanya ditutup dengan belahan pita tipis dari daun Siwalan sebagai alat penutup sekaligus penyaring Tuak atau Legen bila dituang di centhak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat untuk minum yang khas sebenarnya tebuat dari sekerat bambu.  Bambu dengan tinggi sekitar 10 cm yang dijadikan gelas minuman ini disebut centhak.    Bibir dan dinding centhak biasanya sudah ditipiskan, sehingga memudahkan apabila dipakai untuk wadah minuman.  Sampai sekarang pun centhak masih gampang ditemui di Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legen atau Tuak ini sebenarnya adalah air nira yang keluar dari pohon Siwalan melalui tangkai tandan bunga yang dipotong atau diiris atau disadap atau dideres.   Tangkai tandan bunga ini lah yang dalam bahasa orang Tuban disebut dengan wolo.   Ngunduh tetese wolo berarti memungut tetesan nira dari tangkai tandan bunga yang disadap.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam wolo atau tangkai tandan bunga, yaitu wolo lanang dan  wolo wadon.  Tangkai tandan bunga jantan dan tangkai tandan bunga betina.   Semuanya bisa disadap air niranya.  Namun yang pasti diambil niranya adalah   yang jantan, sedang yang betina kadang dibiarkan tidak disadap karena dipelihara buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wolo tidak begitu saja mengeluarkan niranya, tetapi mesti dilakukan dulu perlakuan agar dapat mengeluarkan nira.   Caranya wolo yang sudah hampir maksimal perkembangannya diperlakukan seperti dipijat-pijat atau dijepit dengan dua bilah bambu yang tebal atau gilig.  Alat penjepit yang terbuat dari dua bilah bambu itu disebut dengan gathik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 (dua) macam gathik, yaitu gathik untuk bunga jantan bentuknya agak melebar, dan  gathik untuk bunga betina biasanya agak gilig atau bulat.  Hal ini karena pada tangkai bunga betina posisi menjepinya yang agak susah, karena tangkai tandan bunga betina biasanya agak brendhol-brendhol.   Penjepitan  wolo dengan gathik ini dilakukan secara terus menerus setiap hari selama 1 minggu.  Setelah ada tanda-tanda wolo akan mengeluarkan niranya, maka pemotongan wolo pun akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak istilah-istilah lokal seputar Siwalan dan produknya.  Mudahan suatu saat nanti Allah menakdirkan dapat mengunjungi Tuban lagi dan menulis lagi.   Atau barangkali ke daerah lain yang memiliki potensi Siwalan sangat bagus, yang bisa digali banyak cerita seputar Siwalan serta istilah-istilah lokal sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia.  Biar kita semakin mencintai Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-323872524124260195?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/323872524124260195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=323872524124260195' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/323872524124260195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/323872524124260195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/legen-dan-tuak-siwalan-dari-tuban.html' title='LEGEN DAN TUAK SIWALAN DARI TUBAN'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-7474141923515374337</id><published>2008-11-21T15:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T15:22:15.268-08:00</updated><title type='text'>Angkatan Udara : Memanjat dan bekerja di udara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdCAgGVRwI/AAAAAAAAAb8/8hybr3jz5a8/s1600-h/Mengikat-bumbung-dan-menutu.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdCAgGVRwI/AAAAAAAAAb8/8hybr3jz5a8/s320/Mengikat-bumbung-dan-menutu.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271254465244382978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdCAPidn2I/AAAAAAAAAb0/fNfugZ-aNg0/s1600-h/Mengambil-bumbung-berisi-ni.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdCAPidn2I/AAAAAAAAAb0/fNfugZ-aNg0/s320/Mengambil-bumbung-berisi-ni.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271254460798967650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB_xjY7rI/AAAAAAAAAbs/BfAKzroqCM4/s1600-h/Memanjat-Siwalan-Pagi-dan-s.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB_xjY7rI/AAAAAAAAAbs/BfAKzroqCM4/s320/Memanjat-Siwalan-Pagi-dan-s.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271254452749790898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB_TGp_AI/AAAAAAAAAbk/-p6fXFa1dVw/s1600-h/Memanjat-Pohon-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB_TGp_AI/AAAAAAAAAbk/-p6fXFa1dVw/s320/Memanjat-Pohon-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271254444576209922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB-4oVqXI/AAAAAAAAAbc/yAbZ4TSBEdU/s1600-h/memanjat-harapan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 177px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdB-4oVqXI/AAAAAAAAAbc/yAbZ4TSBEdU/s320/memanjat-harapan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271254437469727090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-7474141923515374337?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/7474141923515374337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=7474141923515374337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7474141923515374337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7474141923515374337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/angkatan-udara-memanjat-dan-bekerja-di.html' title='Angkatan Udara : Memanjat dan bekerja di udara'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSdCAgGVRwI/AAAAAAAAAb8/8hybr3jz5a8/s72-c/Mengikat-bumbung-dan-menutu.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-9194848401745853647</id><published>2008-11-21T14:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T15:09:39.060-08:00</updated><title type='text'>Wadah penampungan dan sajian legen-tuak Siwalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_LvhHmbI/AAAAAAAAAbU/0VNyVvRm8iQ/s1600-h/Legen-Pahit-dituang-dari-bu.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_LvhHmbI/AAAAAAAAAbU/0VNyVvRm8iQ/s320/Legen-Pahit-dituang-dari-bu.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271251359826942386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_LQI29uI/AAAAAAAAAbM/SWWORbzmaFI/s1600-h/Kripik-Singkong-dan-Legen.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_LQI29uI/AAAAAAAAAbM/SWWORbzmaFI/s320/Kripik-Singkong-dan-Legen.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271251351403689698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KwS5YVI/AAAAAAAAAbE/T8Mgo94zjgM/s1600-h/Dengan-Jerigen-Tuak-di-tamp.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KwS5YVI/AAAAAAAAAbE/T8Mgo94zjgM/s320/Dengan-Jerigen-Tuak-di-tamp.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271251342855856466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KUj966I/AAAAAAAAAa8/fGxuyXlRnUc/s1600-h/Bumbung-menampung-nira-siwa.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KUj966I/AAAAAAAAAa8/fGxuyXlRnUc/s320/Bumbung-menampung-nira-siwa.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271251335411264418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KCfPHjI/AAAAAAAAAa0/TMB2z92AK8o/s1600-h/Bumbung-ditiriskan-stl-dicu.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 205px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_KCfPHjI/AAAAAAAAAa0/TMB2z92AK8o/s320/Bumbung-ditiriskan-stl-dicu.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271251330559581746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-9194848401745853647?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/9194848401745853647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=9194848401745853647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/9194848401745853647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/9194848401745853647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/wadah-penampungan-dan-sajian-legen-tuak.html' title='Wadah penampungan dan sajian legen-tuak Siwalan'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc_LvhHmbI/AAAAAAAAAbU/0VNyVvRm8iQ/s72-c/Legen-Pahit-dituang-dari-bu.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-426400515573151957</id><published>2008-11-21T06:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T14:54:27.254-08:00</updated><title type='text'>Mengolah Legen dan Tuak Siwalan di Tuban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7e5pBA_I/AAAAAAAAAaE/7muI6_jEEXg/s1600-h/Bumbung-digantung-dicuci.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 191px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7e5pBA_I/AAAAAAAAAaE/7muI6_jEEXg/s320/Bumbung-digantung-dicuci.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271247290915423218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7evZUPNI/AAAAAAAAAZ8/HIdXOQzJJQ0/s1600-h/Batas-kebun-dg-poon-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7evZUPNI/AAAAAAAAAZ8/HIdXOQzJJQ0/s320/Batas-kebun-dg-poon-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271247288165219538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7effPjEI/AAAAAAAAAZ0/dbrRgX8yy8k/s1600-h/Buah-Siwalan-dari-bunga-bet.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7effPjEI/AAAAAAAAAZ0/dbrRgX8yy8k/s320/Buah-Siwalan-dari-bunga-bet.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271247283895110722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7dwrk6RI/AAAAAAAAAZs/bxZzDUYRaQ0/s1600-h/Bambu-Bumbung-Nira-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 257px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7dwrk6RI/AAAAAAAAAZs/bxZzDUYRaQ0/s320/Bambu-Bumbung-Nira-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271247271330375954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7di3C5mI/AAAAAAAAAZk/hfPB-YRQelU/s1600-h/Air-Kapur-agar-Nira-nggak-a.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 317px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7di3C5mI/AAAAAAAAAZk/hfPB-YRQelU/s320/Air-Kapur-agar-Nira-nggak-a.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271247267620382306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-426400515573151957?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/426400515573151957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=426400515573151957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/426400515573151957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/426400515573151957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/mengolah-legen-dan-tuak-siwalan-di.html' title='Mengolah Legen dan Tuak Siwalan di Tuban'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSc7e5pBA_I/AAAAAAAAAaE/7muI6_jEEXg/s72-c/Bumbung-digantung-dicuci.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-7945255148176543025</id><published>2008-11-20T16:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T16:29:08.085-08:00</updated><title type='text'>Buah, Legen dan Tuak dari Siwalan di Tuban JaTim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_iQxW1RI/AAAAAAAAAZU/0yCwehktyY8/s1600-h/Warung-Legen-sepanjang-jala.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 159px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_iQxW1RI/AAAAAAAAAZU/0yCwehktyY8/s320/Warung-Legen-sepanjang-jala.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270899902989653266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_h-vq1fI/AAAAAAAAAZM/lRSyEq-cMtw/s1600-h/Pak-Sogi-memasang-Bumbung.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_h-vq1fI/AAAAAAAAAZM/lRSyEq-cMtw/s320/Pak-Sogi-memasang-Bumbung.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270899898150737394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_hBFUHkI/AAAAAAAAAZE/QE4UdbkiVoY/s1600-h/Pak-Sogi-manjat-pohon-siwal.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_hBFUHkI/AAAAAAAAAZE/QE4UdbkiVoY/s320/Pak-Sogi-manjat-pohon-siwal.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270899881598524994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_gwiD02I/AAAAAAAAAY8/nYKgME5ayZI/s1600-h/memanjat-harapan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 177px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_gwiD02I/AAAAAAAAAY8/nYKgME5ayZI/s320/memanjat-harapan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270899877155689314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_gmi9i0I/AAAAAAAAAY0/qnTv3NnwL1o/s1600-h/Bibit-Siwalan-lama-tumbuhny.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_gmi9i0I/AAAAAAAAAY0/qnTv3NnwL1o/s320/Bibit-Siwalan-lama-tumbuhny.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270899874475117378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-7945255148176543025?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/7945255148176543025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=7945255148176543025' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7945255148176543025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/7945255148176543025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/buah-legen-dan-tuak-dari-siwalan-di.html' title='Buah, Legen dan Tuak dari Siwalan di Tuban JaTim'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX_iQxW1RI/AAAAAAAAAZU/0yCwehktyY8/s72-c/Warung-Legen-sepanjang-jala.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-2669704815672403098</id><published>2008-11-20T16:00:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T16:16:04.934-08:00</updated><title type='text'>Foto-foto Siwalan di Tuban Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9ZPjAF5I/AAAAAAAAAYs/NLlmDTbzeAU/s1600-h/Warung-produk-Siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9ZPjAF5I/AAAAAAAAAYs/NLlmDTbzeAU/s320/Warung-produk-Siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270897549018929042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9Y70QluI/AAAAAAAAAYk/mXp9DpeAqzU/s1600-h/Warung-Siwalan-Legen-%26-Tuak.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9Y70QluI/AAAAAAAAAYk/mXp9DpeAqzU/s320/Warung-Siwalan-Legen-%26-Tuak.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270897543722604258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9You4syI/AAAAAAAAAYc/eNgVGdBm-uQ/s1600-h/Es-Siwalan-gulo-jowo.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 304px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9You4syI/AAAAAAAAAYc/eNgVGdBm-uQ/s320/Es-Siwalan-gulo-jowo.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270897538599793442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9YVq9t6I/AAAAAAAAAYU/60AORXft8T4/s1600-h/Es-siwalan.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 314px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9YVq9t6I/AAAAAAAAAYU/60AORXft8T4/s320/Es-siwalan.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270897533483071394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9YODMwOI/AAAAAAAAAYM/MKnsD_oa1RI/s1600-h/Siwalan-di-pekarangan-umah.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9YODMwOI/AAAAAAAAAYM/MKnsD_oa1RI/s320/Siwalan-di-pekarangan-umah.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270897531437236450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8Fjs9ReI/AAAAAAAAAYE/eihluFgkeRw/s1600-h/Siwalan-Jarak-Rapat.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 274px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8Fjs9ReI/AAAAAAAAAYE/eihluFgkeRw/s320/Siwalan-Jarak-Rapat.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270896111320384994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8FQvckRI/AAAAAAAAAX8/3OoN2Rn3g8g/s1600-h/Pak-Sogi-minum-Legen.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 255px; height: 309px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8FQvckRI/AAAAAAAAAX8/3OoN2Rn3g8g/s320/Pak-Sogi-minum-Legen.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270896106230550802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8FPFkpXI/AAAAAAAAAX0/qggctppkYsQ/s1600-h/Pisau-Deres-Siwalan-1.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8FPFkpXI/AAAAAAAAAX0/qggctppkYsQ/s320/Pisau-Deres-Siwalan-1.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270896105786484082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8EoBeg7I/AAAAAAAAAXs/mW-zHrFcdnc/s1600-h/Pak-Sogi-sedang-beraksi.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8EoBeg7I/AAAAAAAAAXs/mW-zHrFcdnc/s320/Pak-Sogi-sedang-beraksi.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270896095300322226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8EJ6sTKI/AAAAAAAAAXk/hB6Is1AcBAo/s1600-h/Ditanam-di-batas-petak-tega.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX8EJ6sTKI/AAAAAAAAAXk/hB6Is1AcBAo/s320/Ditanam-di-batas-petak-tega.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270896087218801826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-2669704815672403098?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/2669704815672403098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=2669704815672403098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2669704815672403098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/2669704815672403098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/foto-foto-siwalan-di-tuban-jawa-timur.html' title='Foto-foto Siwalan di Tuban Jawa Timur'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/SSX9ZPjAF5I/AAAAAAAAAYs/NLlmDTbzeAU/s72-c/Warung-produk-Siwalan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057773726484961197.post-4363922842409582494</id><published>2008-11-20T13:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T13:47:25.212-08:00</updated><title type='text'>Bismillahirrohmanirrohim</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dengan ucapan "dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang" memulai membuka blog baru dengan nama KEBUN SIWALAN.   Blog ini lahir setelah penulis pulang ke kampung di Tuban Jawa Timur hari Minggu tanggal 16-17 November 2008 yang lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebetulan usai menjalankan tugas untuk mengikuti workshop tentang Desa Mandiri Pangan di Hotel Ina Garuda di Malioboro Yogjakarta, masih ada waktu untuk mampir TOT.  TOT itu bisa saja Training of Trainers, tapi yang saya maksud adalah Tengok Orang Tua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;TOTnya di Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur.  Sedang lokasi sasaran untuk memperoleh info tentang SIWALAN adalah di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.   Ada 2 (dua) orang petani SIWALAN yang menjadi nara sumber awal, yaitu Pak Sogi dan Pak Rosan.  Penulis ditemani oleh Mas Supardig, yang tidak lain adalah keponakan penulis sendiri, tapi belaunya lebih senior.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tulisan-tulisan yang menjadi postingan awal dalam blog ini akan melaporkan hasil liputan dari Boto Tuban tadi.  Kepada para pengunjung blog ini akan juga disuguhkan berbagai tulisan yang tercecer disana-sini tentang SIWALAN.  Pokoknya blog ini akan diposisikan sebagai pusat rujukan utama, atau sumber referensi terdepan dalam usaha pengembangan SIWALAN di Indonesia.  Itu sih visinya, biar semangat!  Ya nggak ?! (Kalau nggak menyemangati diri sendiri, siapa lagi?!)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat menikmati!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam dari orang Merakurak Tuban Jatim.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057773726484961197-4363922842409582494?l=kebunsiwalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/feeds/4363922842409582494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057773726484961197&amp;postID=4363922842409582494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/4363922842409582494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057773726484961197/posts/default/4363922842409582494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kebunsiwalan.blogspot.com/2008/11/bismillahirrohmanirrohim.html' title='Bismillahirrohmanirrohim'/><author><name>kebun aren</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/TFCm0ZVnIsI/AAAAAAAAB5k/PcRwupr-zdE/s1600-R/n1620741470_3636.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
