....Selamat untuk anakku Alifia Qurata Ayun wisuda Sarjana Farmasi....

Kamis, 08 Januari 2009

Membuat ‘Legen’ dan ‘Tuak’ di Masa Pati Wolo Siwalan

Membuat ‘Legen’ dan ‘Tuak’ di Masa Pati Wolo Siwalan

Oleh : Dian Kusumanto

Pada masa pati wolo produksi nira Siwalan turun drastis bahkan sangat minim sekali, namun demikian masih ada satu dua pohon Siwalan yang masih mampu berproduksi. Oleh karena itu untuk tetap memenuhi pasar minuman Legen dan Tuak ini para pedagang Legen dan Tuak Siwalan ini mempunyai trik-trik untuk tetap menyediakan minuman ini.

Sebenarnya ini sangat dirahasiakan oleh para pedang minuman Legen dan Tuak Siwalan. Karena itu penulis sangat kesulitan untuk memperoleh informasi yang sangat rahasia ini. Dengan beberapa cara akhir ada juga diantara petani yang mau menjelaskan trik-trik yang biasa dilakukan oleh pedagang minuman ini.

Ini berawal dari pemikiran penulis setelah mengetahui keadaan sebenarnya siklus produksi yang pada masa pati wolo ini sangat turun drastis. Namun di tingkat pedagang seolah-olah fluktuasi produksi ini tidak terjadi. Para pedagang di pinggir jalan masih tetap saja bisa menjual Legen dan Tuak dalam jumlah yang hampir tidak beda dengan masa-masa biasanya. Hal ini terjadi karena pedagang bisa membuat legen dan tuak buatan, yang tidak murni namun masih tetap bisa diterima oleh konsumen, karena konsumen sudah terbiasa dan sulit untuk menghentikan kebiasaan menkonsumsi minuman khas ini.

Legen dan Tuak buatan ini memang nyaris tidak berbeda dengan yang murni atau aslinya. Namun bagi yang biasa sebenarnya masih bisa merasakan perbedaannya. Adapun yang penulis dapatkan informasi bocorannya bersumber dari seorang petani yang sudah biasa berhubungan dengan para pedagang yang mempraktekkan. Sumber tersebut tidak mau disebutkan namanya. Namun jika dicek dengan beberapa informasi lainnya maka informasi ini bisa mewakili.

Adapun cara untuk membuat Legen Buatan itu sebagai berikut. Jika legen yang akan dibuat nanti 25 liter, maka bahannya antara lain adalah : legen asli 5 liter, pupus daun Siwalan 2-5 pupus, sari manis secukupnya dan air 20 liter. Semua bahan dicampur dan dimasak sampai mendidih dan kemudian didinginkan. Biasanya legen buatan ini bisa lebih awet dan tidak mudah berubah karena fermentasi, lain dengan legen atau nira Siwalan asli yang biasanya mudah berubah karena fermentasi gampang terjadi setelah sekitar 4 jam. Legen asli akan agak awet jika dimasak lebih dahulu.

Bagaimana dengan tuak buatan? Tuak buatan sebanyak 30 liter itu dibuat dari Tuak lama sebanyak 10 liter, Tuak baru 5 liter, Air 15 liter, ditambah secukupnya sari manis, untuk rasa ’sepet’ menggunakan Duwet atau Juwet dan rasa pahit dengan menggunakan sambiloto. Kadang-kadang sari manis tidak digunakan. Tuak lama adalah tuak yang memang disimpan dalam waktu yang sudah lama. Tuak lama biasanya kandungan alkoholnya agak tinggi. Tuak baru memang dimaksudkan untuk menjaga aroma dan rasa tuak buatan. Buah juwet yang kelat atau ’sepet’ dan sambiloto yang pahit memberi kesan sepet pahitnya rasa tuak.

Apakah pembuatan legen dan tuak buatan ini hanya dilakukan hanya pada saat pati wolo saja? Atau juga dilakukan untuk menyiasati pasar yang permintaannya banyak sepanjang tahun, padahal ada masa menurunnya produksi. Pedagang yang baik harusnya menjelaskan produk yang dijual ini legen atau tuak asli atau legen atau tuak buatan. Apakah legen yang dijual sampai ke luar daerah itu asli atau buatan? Wah... kalau masalah ini perlu ditelusuri lagi....

Mudahan ada info lanjutan tentang ini. Apakah Anda ada informasi lain tentang ini? Kami tunggu tanggapan Anda.

Minggu, 04 Januari 2009

PATI WOLO : MASA NIRA SIWALAN TIDAK BERPRODUKSI

  


PATI WOLO : MASA NIRA SIWALAN TIDAK BERPRODUKSI

Oleh : Dian Kusumanto

Menjelang pergantian tahun kemarin penulis sempat ke Tuban. Mampir dari tugas kantor mengawal kunjungan belajar para PPL dari Kabupaten Nunukan ke Jogjakarta dan Malang. Yaa.. sambil mengadakan TOT ke kampung halaman. TOT itu adalah kegiatan ”tengok orang tua”, bukan training of trainers lho. Dengan naik bus umum seusai acara kantor dari Malang meuju tujuan TOT pertama ke Banyuwangi. Sedangkan TOT selanjutnya menuju Tuban, tepatnya di Merakurak.
 
Di Banyuwangi penulis menyempatkan waktu untuk mengunjungi kebun kelapa dan mencari info tentang pengolahan nira kelapa menjadi gula merah. Tentu saja mengumpulkan koleksi foto-foto untuk bahan publikasi di blogspot ini. Demikian juga pada saat penulis ke Tuban, meluangkan kesempatan kembali ke Desa Boto Kecamatan Semanding. Sebenarnya kampungnya Pak Sogi ini adalah daerah perbatasan antara Kecamatan Merakurak dan Semanding dan lebih dekat dengan tempat TOT penulis.

  Pak Sogi pada masa pati wolo lebih banyak pergi ke ladang untuk tanam jagung, ubikayu, petik buah Srikaya, piara Sapi dan Kambing.  Kalau dulu sering pergi ke Bali untuk menjadi tukang bangunan.

Saat itu Siwalan sedang kurang sekali produksinya, bahkan sebagian besar petani Siwalan sedang libur mengudara, karena pohon-pohon sangat sedikit yang bisa dipanjat. Jadi, para ”angkatan udara” kita ini lebih banyak bersantai di rumah, atau justru melakukan aktifitasnya di ladang dan di sawah. Pada musim penghujan di bulan-bulan Desember, Januari dan Februari bahkan sampai Maret justru pohon Siwalan sedang berhenti berproduksi. 

Masa-masa seperti ini disebut sebagai masa ’pati wolo’, artinya adalah matinya produksi nira Siwalan dari tandan bunga (wolo). Sebenarnya juga tidak kosong sama sekali, tapi produksi nira sangat sedikit sekali. Masa-masa yang paling ”kering” ini biasanya akan berlangsung sekitar 3 bulan. Dengan demikian aktifitas panjat-memanjat berkurang drastis, barangkali hanya satu-dua pohon saja yang masih ada ’wolo’nya.

Oleh karena itu ”bethek” yaitu bambu penampung nira di atas pohon itu lebih banyak yang teronggok di bawah, berkumpul ramai-ramai sesama bethek yang sedang cuti bersama. Saat-saat begini biasanya digunakan juga untuk mempersiapkan bethek-bethek baru, karena ada saja bethek yang bocor atau retak.  

 Bethek yang sedang masa istirahat pakai.

Bethek dibuat dari bambu, satu lonjor bambu bisa dibuat sekitar 10 bethek. Jumlah bethek untuk pengambilan LEGEN jumlah 2 kali lipat dibanding untuk pengambilan TUAK. Sebab untuk LEGEN (nira manis) maka kebersihan dan sterilitas bethek harus terjaga agar tidak terjadi proses fermentasi yang berlebihan sehingga nira berubah menjadi TUAK.

Ada ciri khas dalam memperlakukan bambu untuk dijadikan bethek, centhak ataupun bonjor. Bambu diserut, dibersihkan dan dihaluskan seluruh permukaannya, kemudian bibirnya ditipiskan sehingga ada kesan isinya lebih banyak dan lebih ringan. Tipisnya bibir bethek, centhak dan bonjor ini yang saya maksud sangat khas.

Bethek berfungsi untuk menampung nira di atas pohon, sedang centhak adalah tempat untuk minum (gelas) LEGEN atau TUAK. Maka ada ukuran yang khas bagi centhak ini, biasanya juga sama dengan ukuran volume gelas, yaitu sekitar 200 sampai 300 ml. Centhak sekarang juga agak susah ditemui, banyak diganti dengan gelas beling atau gelas plastik, lebih praktis dan gampang mencucinya. Kalau centhak lebih ribet membawanya dan lebih berat.  

Sedangkan bonjor dibuat lebih panjang yang terdiri dari beberapa ruas bambu, yang tingginya sekitar 1 sampai 1,5 meter, gunanya untuk tempat menampung nira LEGEN atau TUAK. Kalau dulu bonjor sering kita jumpai dipikul oleh para pedagang legen atau tuak yang di pinggir jalan, sekarang agak sulit ditemui, karena bonjor digantikan oleh jerigen plastik.

   Sekarang penjual Tuak di pinggir jalan tidak lagi menggnakan bonjor dan centhak, cukup dan lebih praktis menggunakan jerigen dan gelas plastik.

Bonjor dan centhak merupakan perlengkapan yang khas para penjaja legen dan tuak di pinggir jalan. Itu adalah keadaan dulu, jaman saya masih anak-anak atau masih sekolah, sekitar tahun 70-80 an. Sekarang ini di era tahun 2000-an susah mencarinya, oleh karenanya sekarang sudah dibuat semacam miniaturnya. Miniatur bonjor ini sangat elok bila dipajang di ruang tamu sebagai simbul kalau kita ini orang Tuban. Meskipun bukan identik sebagai penggemar TUAK, miniatur bonjor ini hanya sebagai representatifnya budaya Tuban. Yaa.. memang itu ciri khas yang selama kurun waktu sejarah Tuban menjadi icon, yang memang tidak ada duanya di daerah lain.

Kembali pada masa pati wolo, para kaum angkatan udara Siwalan ini lebih banyak waktunya untuk mengelola ladang mereka. Pada masa ini penanaman Jagung, Ubikayu, Kacang Tanah, Sorgum atau ”Orean” menjadi aktifitas utama. Namun banyak juga para pasukan angkatan udara Siwalan ini pergi merantau mencari pekerjaan lain atau bisnis lain bahkan sampai ke luar daerah, demi mengisi masa-masa pati wolo.  

Seperti di Boto Semanding, kampungnya Pak Sogi dan Pak Rosan, dulu sampai sekarang ini pada saat seperti ini banyak orang yang ke Bali untuk mencari pekerjaan sebagai Tukang ataupun pekerjaan lainnya. Soalnya agak sulit mencari kerja di Tuban sendiri dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya, yang biasanya hanya tukang atau kuli bangunan. Di Tuban ada sih proyek, tapi sudah banyak orang yang mengisinya, sedangkan untuk proyek-proyek di Bali mereka ada kenalan dengan para broker tenaga borongan proyek.

Alternatif upaya mengurangi kekurangan serapan kerja kebun Siwalan dengan produksi nira Siwalan sepanjang tahun.

Pada saat pati wolo ini berarti serapan pekerjaan di kebun Siwalan berkurang, sehingga para petani dan pemanjat Siwalan kurang aktifitasnya. Petani di Tuban sudah merasa kalau menganggur siapa yang bayar, apa yang akan dihasilkan? Ini namanya etos kerja produktif. Etos kerja produktif berarti kemauan untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu sehingga bernilai, bermanfaat untuk kehidupan masa-masa besuk dan yang akan datang. Bisa jadi ini yang disebut sebagai etos bekerja produktif, ada yang mengatakan etos kerja berat.

Namun sudahkah pilihan pekerjaan itu menjadi pilihan yang cerdas? Ini perlu diuji dengan beberapa kriteria sehingga pilihan itu bisa disebut sebagai memiliki etos bekerja cerdas. Cerdas atau tidak cerdasnya adalah tergantung dari efektifitas capaian hasil kerja serta tingkat efesiensi sumberdaya yang digunakan dalam mencapai hasil kerja itu. Semakin efektif dan efisien dalam menggunakan sumberdaya yang ada berarti semakin cerdas juga kita dalam bekerja.

Maksud saya, adalah kalau kita mau agar petani Siwalan kita yang mempunyai etos kerja tinggi ini juga dapat memanfaatkan waktunya bekerja di Tuban saja ntuk mengelola sumberdaya alam yang lebih kompetitif dalam nilai ekonominya di banding di daerah lainnya. Untuk itu para pengambil kebijakan di Tuban atau di daerah mana saja Siwalan ditanam bisa memaksimalkan keunggulan dari komoditi Siwalan ini lebih kompetitif.

Cara satu-satunya adalah dengan pegelolaan kebun Siwalan yang lebih intensif lagi. Masa-masa pati wolo ini sebenarnya bukan saja karena pergantian musim atau siklus musim, namun juga akibat dari perlakukan dari para petaninya yang memang belum mengetahui trik-trik dalam mengatur produktifitas Siwalan agar bisa berproduksi sepanjang tahun. Kenapa cara-cara seperti ini belum diketahui oleh petani kita sampai saat ini? Mungkin karena mereka hanya mengambil hasil saja terus-menerus dan merasa dengan perlakuan apa adanya saja sudah memberi hasil. Mereka nrimo saja.

    Pak Kusriyanto, dia tidak memiliki pohon Siwalan dan memilih profesi sebagai penjual buah Siwalan di Terminal Bus dan memasok warung-warung Siwalan di pinggir jalan.  Sebungkus buah Siwalan yang sudah dikupas ini dijual seharga Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per bungkus isi 5 biji buah.  Dia membeli buah Siwalan dari kebun seharga Rp 3.000 per sepuluh buah, setiap buah terdapat rata-rata 3 biji buah.

Ini memang tataran para peneliti atau para projo yang mengambil kebijakan dan keputusan. Masalah pati wolo ini memang sederhana, namun rupanya berpengaruh pada pranata kehidupan sosial di kampung-kampung para penyadap nira Siwalan ini. Namun kalau mereka tidak peka pada masalah yang dihadapi masyarakat di bawah juga agak susah merasakan fenomena ini. Maka barangkali Raden Mas Said si Brandal Lokajaya bisa dipanggil untuk merasakan ’kegetiran’ nasib kaum kecil di Tuban. (bersambung)

 

Jumat, 02 Januari 2009

LONTAR Multiguna, dari Akar hingga Nira

LONTAR Multiguna, dari Akar hingga Nira 

Pohon lontar yang bermanfaat dari akar hingga niranya, seharusnya berkesempatan untuk dikembangkan sehingga bernilai ekonomi tinggi. 


HEMBUSAN angin kering terasa keras menerpa dedaunan yang gugur di sepanjang jalan lintas Pelabuhan Pantai Baru menuju Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Gugusan bukit menjulang dan kawasan ladang serta sawah tadah hujan yang tandus silih berganti mewarnai perjalanan, Sabtu (15/11) siang. Kondisi itu berbeda dengan ribuan pohon lontar yang tumbuh di antara rumah penduduk. 

Lontar (Borassus flabellifer) memang umumnya tumbuh subur dan melimpah di tanah tandus di lingkungan tropis seperti di Pulau Rote dan Sabu. 
Di musim panas yang identik dengan paceklik, warga memanfaatkan nira, hasil sadapan lontar, untuk diminum. 

Minum nira dipercaya membuat orang bertahan terhadap lapar. Rasanya manis bercampur asam, disertai aroma khas. 

Satu pohon lontar dapat menghasilkan sekitar enam liter nira tiap hari. Daging buah lontar setengah tua dijadikan makanan ternak. 
Nira bisa dimasak menjadi gula air atau disebut juga dengan tuak nasu. Gula air berwarna kuning kecokelatan. 

Bila gula air dimasak hingga kering dan dibentuk lempengan akan disebut gula lempeng. Bisa juga nira yang dikeringkan tersebut dihaluskan menjadi tepung. Gula yang dihaluskan itu dinamai gula semut. 

Selain itu, nira juga bisa dijadikan cuka atau kecap. 
Produk-produk yang berbahan baku nira itu sudah beredar di pasar tradisional hampir seluruh wilayah NTT. 

Menyadap 

Tradisi warga yang mendiami Pulau Rote ketika musim paceklik (Juli hingga November) adalah menyadap nira. Seperti diakui Zakaris, 48, warga Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah. 

"Di pagi hari, biasanya orang dewasa di kampung cukup minum gula yang diaduk bersama air. Siangnya baru makan nasi," katanya. 
Biasanya, nira banyak disadap pada Juli hingga November. Hasilnya, sebagian dijual dengan harga Rp15 ribu per liter. Sisanya, untuk persediaan musim paceklik. 

Setiap pagi, lelaki yang hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar itu memanjat pohon lontar dengan membawa alat sadap yang disebut haik (wadah setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar) untuk menampung nira. Keesokan harinya, Zakaris mengambil haik yang sudah dipenuhi nira, dan menggantinya dengan haik yang baru. 

Nira tersebut kemudian diolah oleh kaum perempuan untuk dijadikan gula air, gula lempeng, gula semut, kecap, atau cuka. 


Bernilai ekonomi tinggi 

Saat ini terdapat sedikitnya 792.748 pohon lontar penghasil nira yang tumbuh tersebar di desa-desa di pulau paling selatan di Indonesia tersebut. 

Jika ribuan pohon itu menghasilkan minimal 60% gula, produksi gula dalam satu musim menyadap berjumlah 28.538.880 liter. 

Penelitian Rosdiati Napitupulu dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, nira berasal dari lontar masih bisa dikembangkan untuk menciptakan kegiatan produktif yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, asam asetat, gliserin, dan nata de nira. 

Menurut Dia, nata yang terbut dari nira lontar, lebih mudah dan cepat membentuk biomassa jika dibandingkan dengan nata yang terbuat dari kelapa (nata de coco). 

Nata merupakan bioselulose hasil fermentasi yang menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Sedangkan nata de nira merupakan makanan penyegar dan pencuci mulut berkalori tinggi. 
"Wilayah Nusa Tenggara Timur sangat berpotensi untuk pengembangan agroindustri dan agrobisnis mengingat produksi bahan dasar yang sangat melimpah khususnya nira lontar dan nira kelapa yang masih belum dimanfaatkan secara optimal," katanya. 


Untuk kesehatan 

Penduduk yang bermukim di sentra-sentra lontar telah memanfaatkan bagian tanaman itu untuk mengobati berbagai jenis penyakit. 

Bagian buah tua untuk obat kulit (dermatitis), akar yang terdiri dari ekstrak akar muda untuk melancarkan air seni dan obat cacing. Sedangkan rebusan akar muda (decontion) untuk mengobati penyakit yang terkait dengan pernapasan. 

Manfaat bagian bunga lontar atau abu mayang (spadix) dipercaya untuk pengobatan sakit lever. Adapun arang kulit batang digunakan untuk menyembuhkan sakit gigi, dan rebusan kulit batang ditambah garam, berkhasiat sebagai obat pembersih mulut. 

Selama ratusan tahun pula, daun lontar berfungsi sebagai kertas, bahan anyaman, serta kotak musik pada alat musik sasando. 

Berbagai manfaat lontar tersebut sebagian besar tidak ada tindak lanjutnya walaupun sudah dilakukan sejumlah penelitian. 

Karena itu, Rosdiati Napitupulu merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Rote Ndao untuk mendorong terus dilakukan pengembangan manfaat pohon lontar, dari akar hingga niranya, agar memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi pemiliknya. 
Pada akhirnya lontar diharapkan akan menjadi salah satu andalan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) pada kabupaten yang telah berpisah dari Kupang sejak lima tahun lalu itu. (N-1)

Sumber : http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDUzODM=

Geliat Masyarakat Berbudaya Lontar (Siwalan)

Geliat Masyarakat Berbudaya Lontar (Siwalan)

BEGITU menyebut Rote Ndao, yang terbayang adalah pohon lontar (Borassus flabelliber) dan geliat warganya mendayagunakan habis seluruh potensi ekonomis pohon itu, dari akar hingga pucuknya. Warganya merupakan basis masyarakat yang berbudaya lontar.


Nyaris tidak ada bagian dari lontar yang tidak digunakan. Seni musik masyarakat di daerah ini, misalnya, juga diekspresikan lewat lontar. Bagian yang memberi ruang resonansi pada sasando (alat musik petik tradisional Nusa Tenggara Timur asal Rote Ndao) terbuat dari daun lontar.
Sejak berabad-abad silam, lontar pun telah menjadi semacam "pohon kehidupan" yang memberi napas hidup pada masyarakat Rote Ndao. Selain sumber pangan, sarana bantu kesehatan, dan stationery, lontar adalah sumber uang.

Misalnya, tandan bunga lontar selain bisa digunakan untuk obat pegal linu, lebih sering disadap untuk diambil niranya, yang merupakan hasil utama dan berguna untuk pembuatan gula serta minuman beralkohol. Buah muda terkadang juga dapat dimakan.

Sabut buah lontar biasanya digunakan sebagai pewangi dalam pembuatan kue, tetapi sedikit sekali warga yang melihat peluang ini. Batang dan daunnya biasa digunakan sebagai bahan utama bangunan rumah dan itu merupakan kebiasaan turun-temurun.

Ketika pada zaman modern orang menggunakan lem sintetis, penduduk Rote Ndao sudah sejak dahulu kala menggunakan getah lontar sebagai perekat. Daun lontar, selain untuk atap rumah, juga digunakan sebagai bahan baku produk utama anyaman dan kipas.

Meskipun demikian, di antara banyak produk olahan pohon lontar atau siwalan ini, hanya ada satu hal yang tidak pernah bergeser, yakni nira dan produk turunannya berupa gula cair (penduduk lokal menyebutnya gula air) dan gula padat (gula batu/lempeng).
Ketika perekat digantikan oleh lem sintetis, bahan bangunan beralih ke seng dan semen, obat pegal linu dan pewangi digeser oleh produk industri, nira dan gula tetap menjadi primadona. Nira dan gula menerobos hingga kota kabupaten dan provinsi.

HINGGA kini kehidupan masyarakat Rote Ndao masih sangat bergantung pada kemurahan alam pohon lontar. Setiap musim paceklik tiba, hampir bersamaan dengan datangnya kemarau pada April-November, nira/gula menjadi penopang hidup mereka.
Jika haus dan lapar, biasanya mereka meminum nira dan air gula (air yang diaduk dengan dua-tiga sendok makan gula cair atau gula semut). Air gula untuk menahan rasa lapar. Dengan pola sekali makan dalam sehari, bahan makanan yang diperoleh dari hasil menjual gula dan nira hanya dimakan malam hari atau siang hari.

Penduduk Rote Ndao, seperti juga di Sabu, lebih banyak minum dibandingkan dengan makan. Kebiasaan ini terjadi karena tanaman pangan dan ternak umumnya mati pada saat kemarau panjang. Kabupaten paling selatan di Indonesia, yang dekat dengan Australia, ini gersang dan tandus.

Tanaman pangan dan hortikultura yang diusahakan di sini biasanya jagung, padi ladang, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Ternak besar dan kecil berupa sapi, kuda, kambing, dan paling banyak domba. Rote sering dijuluki pulau domba.

Sedangkan tanaman pangan dan hortikultura yang tumbuh di musim hujan yang singkat (sekitar 3-4 bulan) biasanya dirobohkan oleh badai atau siklon tropis yang pasti datang setiap tahun. Selama musim hujan ini, badai sudah dua kali melanda NTT, termasuk Rote Ndao.
Itu sebabnya dalam berbagai literatur yang ditulis oleh cendekiawan Barat tentang penduduk Rote, Ndao, Sabu, dan masyarakat berbudaya lontar lainnya, mereka dikategorikan sebagai non-eating people. Kehidupan masyarakatnya amat sederhana.

Sejak gong persiapan sebagai daerah otonom atau kabupaten definitif ditalukan lebih kencang pada tahun 2001, hingga akhirnya dikukuhkan pada tahun 2002, rentang kendali wilayah semakin pendek. Penduduk miskin mulai lebih cepat diperhatikan.
Geliat ekonomi masyarakat baru mulai terasa bersamaan dengan pembukaan isolasi wilayah yang saat ini sedang dikerjakan di poros utama yang menghubungkan Pantai Baru, Baa, Batutua, dan Fapela (80,2 kilometer). Pantai Baru menjadi pintu masuk jalur laut, yang biasa didatangi feri dua kali sehari dari Kupang.

Markus DM Welkis dan Jonny Y Amalo, dua pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, mengatakan, pembukaan isolasi wilayah ini sangat penting bagi kemajuan wilayahnya. Sebab, sarana transportasi darat di sini masih serba terbatas.

Welkis, yang menjabat Sekretaris Kabupaten Rote Ndao, menjelaskan, sebagai sebuah kabupaten baru, Rote Ndao sedang memfokuskan perhatian pada sektor kelautan dan perikanan untuk memberi ruang pada budidaya rumput laut dan budidaya ikan. Juga tidak ketinggalan peternakan, pertanian, kehutanan, dan pariwisata.
Itulah sektor-sektor unggulan yang akan menguras anggaran daerah di pos pembangunan fisik. Jika direncanakan dengan baik, sektor kelautan dan perikanan serta pariwisata memiliki peluang sangat menjanjikan di sini dibandingkan sektor lain.

Nembrala, Bo’a, Deseli, dan Fapela adalah obyek-obyek wisata andalan di sini, bahkan di NTT. Nembrala, misalnya, memiliki garis pantai sekitar lima kilometer yang bebas polusi dan berpasir putih. Gelombang lautnya terbaik di kelas dunia untuk berselancar.

Hanya karena isolasi wilayah dan miskin promosi, potensi itu jarang dikenal. Masih sedikit pula petani dan nelayan yang membudidayakan rumput laut. Nelayannya pun masih tradisional. Warga masih tetap hidup dari pohon lontar. (Kompas - Pascal SB Saju)

Sumber : http://arengasugar.multiply.com/journal/item/100/Geliat_Masyarakat_Berbudaya_Lontar

Di Pulau Sabu Kupang Nira Lontar Akan Diolah Jadi Bioetanol

Di Pulau Sabu Kupang Nira Lontar Akan Diolah Jadi Bioetanol

Oleh : ORANIS HERMAN & ARRY RIWU ROHI – Kupang

Sumber daya di pulau Sabu sangat banyak. Namun, semuanya itu belum diolah secara baik. Buktinya, di Sabu pohon lontar sangat banyak. Selama ini masyarakat hanya memanfaatkan dan diolah menjadi gula. Namun, sudah ada investor yang berminat akan mengolahnya menjadi bioetanol. 

SAYA sudah berjanji kepada masyarakat di Sabu bahwa komoditi lontar, kita akan memasukan investor untuk mengolah lontar menjadi bioetanol. Memang, tahun lalu saya sudah keluarkan izin untuk investor dari Surabaya masuk ke Sabu untuk mengolah lontar menjadi bioetanol.

Setelah kemarin saya kesana, saya lihat antusias masyarakat sangat besar, setelah saya sosialisasikan menyangkut konversi lontar nira ke bioetanol. Masyarakat sangat antusias sekali dan karenanya saya dalam waktu dekat akan mendorong investor yang bersangkutan agar segera membuka usahanya untuk mengolah nira menjadi bioetanol. 

Untuk kita semua ketahui bahwa potensi lontar yang ada di pulau Sabu termasuk Raijua, tidak kurang dari 1 juta pohon yang produktif. Teman-teman bayangkan saja kalau 1 juta pohon itu produksi, akan menghasilkan bioetanol yang sangat banyak sekali. Karena konvensinya, 1 liter bioetanol didapat dari 10 liter nira.

Satu hari satu pohon lontar bisa menghasilkan lebih kurang 10 liter nira. Saya kemarin tanya sendiri penyadap lontarnya. Saya datang kesana, saya suruh mereka turunkan nira dari pohonnya. Disitu kita buktikan bahwa satu pohon itu hasilnya sebenarnya belasan liter nira dalam sehari. 

Tapi kalau kita ambil angka yang konservatif saja, katakanlah hanya 10 liter per hari, maka satu pohon lontar menghasilkan 1 liter bioetanol per hari. Bayangkan kalau 1 juta pohon berproduksi. Atau kita ambil setengahnya saja, 500 ribu pohon yang berproduksi dalam sehari, maka satu hari Sabu menghasilkan 500 ton bioetanol. Ini cukup besar sekali.

Tidak usah 500 ton, katakan saja 250 ton per hari, itu sudah besar sekali bioetanol yang dihasilkan di Sabu. Saya perkirakan, kalau Sabu itu kita eksploitasi dia punya nira menjadi bioetanol, maka Sabu termasuk salah satu daerah penghasil bioetanol terbesar di Indonesia.
Pasarnya cukup kuat bioetanol. 

Karena pertamina pun menerima bioetanol sebagai penambah bahan bakar bensin untuk menaikan oktan dari pada bensin. Kalau bensin itu oktannya dibawah 100, kalau ditambah bioetanol, maka oktannya lebih dari 100 dan harganya lebih mahal.

Kalau kita mau rubah nira menjadi bioetanol, itu sangat menguntungkan masyarakat. Karena, masyarakat hari itu dia panen, hari itu juga dia dapat uang. Karena, hari itu dia setor niranya ke pabrik, hari itu juga dibayar niranya. Kalau dia harus olah lagi niranya, dia harus mendatangkan kayu. Justru budaya memasak gula inilah yang menyebabkan kita susah untuk menambah jumlah tanaman kayu-kayuan di Sabu. Karena, kayunya habis untuk bakar-membakar.

Tetapi dengan merubahnya menjadi bioetanol, tidak ada satu pohon kayupun yang dipakai untuk memasak gula. Memang, masyarakat tetap akan memasak gula, tetapi jumlahnya menurun sangat drastis sekali karena guna yang mereka masak hanya spesial untuk rumah tangga mereka saja

Sumber : http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=26302

Orang Sabu Makan Cacing Laut dan Gula Lontar





Orang Sabu Makan Cacing Laut dan Gula Lontar 

Hari Suroto-Indosmarin.com


Makassar - Namun dari Sabu, kita tidak hanya mengenal kegarangan. Sabu adalah kisah sebuah pulau terpencil yang begitu penuh dengan cerita menarik tentang pohon lontar atau Borassus sundaicus Beccari. Dalam filosofi Sabu, pohon lontar merupakan bagian penting dalam kehidupan mereka, makanan, tempat tinggal, peralatan hidup sehari-hari bahkan sesudah matipun orang Sabu dikuburkan dan dikenang dengan hasil-hasil dari pohon lontar. 

Makanan pokok orang sawu adalah sirup lontar yakni gula hasil sadapan mayang pohon lontar. Makanan lain yang merupakan suatu hidangan bagi penduduk sabu adalah sejenis cacing laut Leodice Viridis yang sering disebut Nyale. Cacing-cacing ini muncul dalam jumlah besar di pantai selatan. Orang Sabu mengkonsumsinya dengan cara diasami dengan cuka lontar kemudian dimakan sedikit-sedikit sebagai perangsang selera, barang kali dengan arak, nyale adalah makanan yang lezat(*)

Sumber :

1. http://www.indosmarin.com/20080616-orang-sabu-makan-cacing-laut-dan-gula-lontar.html

2. http://picasaweb.google.com/lh/photo/pw_rwezBUMU1jvSZPADhlQ

foto: http://www.geocities.com/kmpaganeshaitb/lontar.JPG

Penyadapan Pohon Siwalan

Penyadapan Pohon Siwalan

Sumber Foto : http://www.manalagi.com/jamesplace/indonesia/lontar/index.html


Siwalan atau Lontar di Pantai Lasianan Kupang NTT


Pantai dengan pohon Siwalan untuk Obyek Wisata Pantai di pantai Lasiana Kupang NTT

Di tepi pantai masih terdapat ratusan pohon “tuak” alias pohon lontar berbaris tegak. Pohon-pohon ini secara rutin disadap untuk diambil niranya atau disebut “iris tuak” oleh orang Kupang. Aktivitas iris tuak oleh warga suku Rote, ini menjadi suguhan menarik, karena sekaligus sebagai “atraksi” pariwisata tanpa perlu agenda khusus yang menelan biaya. Turis bisa menikmati sedapnya nira lontar atau “tuak” dalam istilah orang Rote, yang baru disadap. Rasanya manis, asam, dan agak sepat. Akh, sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apalagi nira yang baru disadap, warnanya agak merah dan rasanyasangat manis, seperti air gula.

Hasil sadapan nira atau tuak itu dimasak di tungku tanah menggunakan periuk tanah. Hasilnya adalah gula lontar yang manis rasanya. Aktivitas ini bisa menjadi “jualan” menarik bagi turis asing.

Andai ada investor yang bisa diajak untuk mengembangkan Pantai Lasiana, akan ada banyak benefit yang bisa diperoleh. Di antaranya, pertama, warga Kota Kupang bisa menikmati tempat rekreasi yang representatif. Kedua, Kota Kupang memiliki sebuah lokasi pariwisata yang benar-benar bisa diandalkan sekaligus menambah pundi-pundi pendapatan asli daerah. Ketiga, tingkat perekonomian masyarakat setempat bisa ditingkatkan. Keempat, dengan vegetasi (hutan mangrove) yang sudah dipulihkan (mungkin 10 tahun ke depan), hasil tangkapan nelayan setempat bisa kembali meningkat. Tapi siapa yang bisa menjual potensi itu?

Sumber : http://eddymesakh.wordpress.com/2008/04/01/pantai-lasiana-riwayatmu-kini/248/