Menengok Industri Gula Rumahan
Kawasan Balandangan Jeneponto tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata yang menyajikan keindahan alam yang mempesona. Di tempat ini juga dikenal sebagai sentra pembuatan gula merah pohon lontar.
Ribuan hektar pohon lontar yang menjadi bahan baku utama, terbentang jauh sepanjang mata memandang, menghiasi pantai-pantai dan bukit-bukit nan eksotik di Jeneponto.
Dg. Tiro, bapak kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai pembuat gula merah yang menggeluti usaha pembuatan gula merah dari pohon lontara. Sudah sejak lama ia bersama perajin lainnya cukup berhasil memproduksi gula-gula merah berkualitas yang siap dikonsumsi masyarakat sekitar Jeneponto, Sulawesi Selatan dan wilayah lainnya.
Dari sadapan nira dari pohon lontara, tercipta gula merah yang memiliki cita rasa khas. Beratus biji hingga beribu biji gula merah itu setiap harinya di hasilkan oleh Dg. Tiro dan rekan-rekan sesama perajin lainnya di Ujung Genteng.
Menurut Dg. Tiro, gula merah yang dihasilkan pohon lontara (lokal: Tala') memiliki cita rasa yang khas. Tak jarang banyak masyarakat yang berminat untuk memakainya. Selain bentuk potongan yang lebih besar dari gula kebanyakan, gula merah pohon lontara relatif lebih murah. Selain itu, nira dari pohon lontara bisa setiap hari disadap tanpa perlu khawatir kehabisan pasokan.
Dalam satu lokasi kawasan pembuatan gula merah pohon lontara, terdapat 10 sampai 30 perajin pembuat gula. Biasanya dalam satu kawasan tersebut ada satu pengelola yang memiliki modal lahan dan perkebunan lontara yang disebut sebagai si mandoro.
Para perajin ini biasanya diberikan kebebasan untuk mengambil nira lontara dan mengolahnya menjadi gula, dengan ketentuan si pemilik kebun wajib mendapat setoran produk gula setiap bulannya.
"Satu perajin wajib memberi gula merah 50 biji per hari ke si punya kebun" kata Dg. Tiro saat berbicang dengan team Lontarasakti, di kawasan Balandangan.(9/11/2008).
Menurutnya dalam satu kawasan setidaknya si pemilik lahan harus menyediakan hingga puluhan hektar pohon lontara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nira bagi para perajin. Bisa dibayangkan, jika harga 1 biji gula merah sebesar sabun mandi di hargai Rp 3.000 satu perajin bisa menghasilkan uang Rp 250.000 per bulan buat si pemilik kebun.
Jika itu dikalikan hingga 50 perajin maka setidaknya uang belasan juta akan masuk ke kantong pemilik kebun per bulannya, tanpa harus bersusah payah.
Dari sisi perajin, mengelola pembuatan gula merah cukup menggiurkan juga, maklum rata-rata produksi satu orang perajin bisa menghasilkan 20-50 biji gula merah per harinya. Dari total produksi itu si perajin harus mengumpulkan nira dari puluhan pohon kelapa setiap pagi hari.
"Untuk buat 25 kg gula merah, itu diambil dari sadapan 20 tongka (tong bambu)" timpal Dg. Labbang seorang perajin lainnya.
Menurut Dg. Labbang biasanya satu perajin rata-rata mendapatkan sadapan nira mencapai 20 liter per hari. Dari bahan baku itu bisa dihasilkan kurang lebih linier dengan jumlah produksi per kilogram gula.
Dg. Labbang, mengaku ia bisa mendapat keuntungan bersih per harinya antara Rp 50.000-75.000 per atau setara rata-rata 2 kwintal gula merah per bulan. Ia mengaku biasa menjual kepada tengkulak yang berada di wilayah perkebunan. Keuntungan itu setelah dipotong oleh biaya-biaya untuk kayu bakar kebutuhan 1 bulan kayu dan sene (obat biang).
"Yang berat itu memang di kayu bakar, satu orang sebulan bisa butuh 2 mobil kayu bakar, satu mobil Rp 250.000 dan obat biang sehari Rp 5.000,"
Soal proses pembuatan gula merah kelapa, menurut Dg. Labbang tidaklah susah. Setelah memperoleh sadapan di pagi hari, ia harus menyiapkan tungku besar kayu bakar untuk menggodok nira kelapa. Proses penggodokannya memakan waktu hingga 2 sampai 3 jam, setelah itu adonan mulai mengental dan siap untuk di taruh ke cetakan tempurung kelapa.
"Kita memang jual Rp 2.000 per biji, tapi saya juga nggak tahu dari tengkulak jual ke pasar Tamanroya berapa,"
Meskipun begitu kata Dg. Labbang, usaha pembuatan gula merah rumahan baginya cukup bisa menghidupi keluarganya. Selain itu, pasar gula merah juga cukup tinggi terutama untuk keperluan bahan baku makanan, minuman dan lain-lain. Sehingga ia optimistis industri semacam ini meskipun berskala kecil bisa menjadi roda ekonomi masyarakat desa. (DD/Lontara Sakti)
Sumber : http://lontarasakti.blogspot.com/
Senin, 09 Mei 2011
Pohon Lontar Jeneponto butuh Industri Gula
Produksi Tuak Jeneponto Butuhkan Industri Gula
Produksi tuak (ballo) oleh masyarakat setempat lebih banyak dijual dalam bentuk minuman keras sampai di Kota Makassar, salah satu penyebabnya, karena minim fasilitas untuk mengolahnya jadi gula, kata anggota DPRD Sulsel Mukhtar Tompo di Makassar, Jumat .

"Kita minta kepada Dinas Perindustrian Sulsel agar mendirikan industri gula merah di sana. Kalau bisa sudah beroperasi 2012," katanya.
Menurut dia, setiap hari masyarakat Jeneponto memproduksi puluhan ribu liter tuak, tetapi belum dirasakan manfatnya karena tidak didukung oleh konsep ekonomi kerakyatan yang sering didengungkan pemerintah.
Ia menyebut, di "bumi turatea" Jeneponto hanya ada satu industri skala kecil pengelolaan gula merah dari nira lontar, itu pun hanya menghasilkan 100 kilo gram gula merah per hari.
"Industri gula merah, lontara sakti, tidak mampu menampung semua tuak yang dijual masyarakat dari Kecamatan Tamalatea. Sementara hampir semua kecamatan menghasilkan tuak," ujar Mukhtar.
Politisi Partai Hanura ini menyebut, di Jeneponto terdapat sekitar satu juta pohon lontar yang tumbuh liar, atau separuh dari wilayahnya ditumbuhi pohon yang dijadikan identitas dan warisan sejarah Sulsel.

Disperindag Sulsel, lanjut dia, cukup mengeluarkan anggaran sekitar Rp1 miliar untuk membangun pabrik yang difasilitasi tangki penampungan tuak, dan alat khusus berkapasitas besar untuk memasak menjadi gula merah.
Tangki penampung sementara, diperlukan untuk memperlambat proses tuak manis menjadi arak kecup (hamar) sebelum diolah menjadi gula.
Jika pabrik tersebut berdiri, Mukhtar, meyakini ekonomi masyarakat setempat meningkat, transaksi minuman keras menurun, dan masyarakat pra sejahtera Jeneponto yang menyebar di berbagai daerah bisa kembali kekampungnya untuk bekerja lebih layak.


"Setiap pohon lontar bisa produksi 10 liter tuak. PT Lontara Sakti membeli Rp20 ribu per jergen (20 liter). Untuk tuak pahit, dulu dijual Rp15 ribu per jergen. Rata-rata Rumah Tangga di sana minimal memiliki 10 pohon lontar," ucapnya.
Meski Disperindag tidak memiliki program pembangunan industri gula di APBD Sulsel 2011, Mukhtar berharap, dinas terkait bersama pemerintah setempat tetap menyosialisasikan kepada masyarakat untuk pengembangan sumber daya lokal. (T.KR-AAT/S016)
Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/25066/produksi-tuak-jeneponto-butuhkan-industri-gula
Makassar (ANTARA News) - Jumat, 25 Februari 2011
Produksi tuak dari pohon lontar di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan membutuhkan industri pengolahan untuk jadi gula merah.
Produksi tuak dari pohon lontar di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan membutuhkan industri pengolahan untuk jadi gula merah.
Produksi tuak (ballo) oleh masyarakat setempat lebih banyak dijual dalam bentuk minuman keras sampai di Kota Makassar, salah satu penyebabnya, karena minim fasilitas untuk mengolahnya jadi gula, kata anggota DPRD Sulsel Mukhtar Tompo di Makassar, Jumat .

"Kita minta kepada Dinas Perindustrian Sulsel agar mendirikan industri gula merah di sana. Kalau bisa sudah beroperasi 2012," katanya.
Menurut dia, setiap hari masyarakat Jeneponto memproduksi puluhan ribu liter tuak, tetapi belum dirasakan manfatnya karena tidak didukung oleh konsep ekonomi kerakyatan yang sering didengungkan pemerintah.
Ia menyebut, di "bumi turatea" Jeneponto hanya ada satu industri skala kecil pengelolaan gula merah dari nira lontar, itu pun hanya menghasilkan 100 kilo gram gula merah per hari.
"Industri gula merah, lontara sakti, tidak mampu menampung semua tuak yang dijual masyarakat dari Kecamatan Tamalatea. Sementara hampir semua kecamatan menghasilkan tuak," ujar Mukhtar.
Politisi Partai Hanura ini menyebut, di Jeneponto terdapat sekitar satu juta pohon lontar yang tumbuh liar, atau separuh dari wilayahnya ditumbuhi pohon yang dijadikan identitas dan warisan sejarah Sulsel.

Disperindag Sulsel, lanjut dia, cukup mengeluarkan anggaran sekitar Rp1 miliar untuk membangun pabrik yang difasilitasi tangki penampungan tuak, dan alat khusus berkapasitas besar untuk memasak menjadi gula merah.
Tangki penampung sementara, diperlukan untuk memperlambat proses tuak manis menjadi arak kecup (hamar) sebelum diolah menjadi gula.
Jika pabrik tersebut berdiri, Mukhtar, meyakini ekonomi masyarakat setempat meningkat, transaksi minuman keras menurun, dan masyarakat pra sejahtera Jeneponto yang menyebar di berbagai daerah bisa kembali kekampungnya untuk bekerja lebih layak.


"Setiap pohon lontar bisa produksi 10 liter tuak. PT Lontara Sakti membeli Rp20 ribu per jergen (20 liter). Untuk tuak pahit, dulu dijual Rp15 ribu per jergen. Rata-rata Rumah Tangga di sana minimal memiliki 10 pohon lontar," ucapnya.
Meski Disperindag tidak memiliki program pembangunan industri gula di APBD Sulsel 2011, Mukhtar berharap, dinas terkait bersama pemerintah setempat tetap menyosialisasikan kepada masyarakat untuk pengembangan sumber daya lokal. (T.KR-AAT/S016)
Sumber : http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/25066/produksi-tuak-jeneponto-butuhkan-industri-gula
Kamis, 27 Januari 2011
Rabu, 10 Februari 2010
CANE SUGAR VS PALM SUGAR

CANE SUGAR VS PALM SUGAR
By : S.E. Smith, 19 Des 2009
http://www.wisegeek.com/what-is-palm-sugar.htm
Differences between Palm Sugar and Cane Sugar :
No Cane Sugar Palm Sugar
1 Cane Sugar is Sweet Palm Sugar is sweet and delicious
2 Cane Sugar Provides no mineral salts Palm Sugar Provides mineral salts
too
3 Cane Sugar has more sugar content Palm Sugar has less sugar content
4 Cane sugar has less/no nutrition value Palm Sugar contains:
a) Thiamine
b) Riboflavin
c) Nicotinic Acid
d) Ascorbic Acid
e) Protein
f) Vitamin C
5 Cane Sugar is less therapeutic value PalmSugar is good to the problems of
a) Asthmatic
b) Anemic
c) Leprosy
d) To accelerate growth of young
Children
6 Cane sugar sometimes create ill
effects on the health
Palm sugar solution proves a
wonderful food in both early stages
and chronic stages of typhoid
7 Cane Sugar creates cough and cold
when consumed in high quantity Palm Sugar is good remedy for cough
and cold
8 Cane Sugar treats no health problem Palm Sugar treats following diseases
a) reduction of BP
b) To decrease pancreas heat
c) To strengthen heart
d) Helps to build up strong teeth
e) Reduces pitta
9 Cane Sugar is treated as sweet water Palm Sugar is treated as honey
Menyadap Nira Lontar, Menenggak Rupiah
Menyadap Nira Lontar, Menenggak Rupiah
Oleh : S. Budiharta
Pernahkah suatu ketika anda melintas di kota Tuban dan beristirahat sejenak lalu mencoba mencicipi minuman khas sana yang sering disebut legen atau nira lontar? Saran saya, berhati-hatilah, karena alih-alih ingin meneguk segarnya air nira, salah-salah anda malah sakit perut atau menjadi batuk karena gatalnya kerongkongan anda. Jika anda ingin menikmati minuman tersebut dengan aman dan nikmat, cobalah masuk ke pelosok-pelosok kampung dan carilah penyadap yang baru menurunkan bumbung air nira dari pohon lontar.
Beberapa oknum pedagang seringkali mencampur nira lontar dengan air-biasanya menggunakan air mentah-dengan konsentrasi hingga 5:100. Artinya dalam 100 liter ‘nira’ yang dijual, hanya terdapat 5 liter nira asli yang benar-benar disadap dari pohon lontar. Memang, selain lebih murah, nira tersebut menjadi tidak lekas basi sehingga dapat disimpan berhari-hari. Padahal nira asli tidak akan bertahan lebih dari 10 jam, karena bila lewat dari tempo tersebut, air nira akan berbusa, berasa masam dan mengeluarkan bau yang bisa-bisa membuat anda muntah.
Sebenarnya, tanpa mencampur dengan air, nira memberikan keuntungan ekonomi sangat menggiurkan. Sebatang pohon lontar produktif yang terpelihara dengan baik, dapat menghasilkan 3-5 liter air nira sehari, dipanen 2 kali pagi dan sore. Dengan harga per liter di tingkat penyadap Rp1.000-harga yang lebih murah dibanding air mineral dalam kemasan- satu pohon dapat menghasilkan Rp3.000-Rp5.000 per hari.
Seorang petani kecil yang hanya mempunyai 20 pohon lontar saja, dengan tanaman produktif 12 pohon, maka dalam sehari dia mampu menangguk penghasilan hingga Rp36.000-Rp60.000 sehari dengan jam kerja kurang dari 4 jam. Bila dia menyadap kepunyaaan orang lain, maka bagi hasil yang umum disepakati adalah 6:1 dengan penyadap mendapat porsi yang lebih besar. Disela-sela waktu sadapnya, penyadap dapat melakukan pekerjaan lain seperti berkebun, mengolah sawah dan lain-lain sehingga mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Angka tersebut barulah hitungan kasar, yang tidak memasukkan nilai tanaman lain seperti padi, palawija atau buah-buahan, karena tanaman lontar umumnya dibudidayakan secara tumpangsari sehingga sangat sesuai untuk pengembangan sistem agroforestry. Pohon lontar dapat ditanam di pinggir-pingir sawah atau sering disebut galengan dengan jarak tanam optimum 5 meter. Keunggulan jenis ini dibanding dengan tanaman lain semisal kelapa adalah akarnya yang sempit dengan sedikit serabut sehingga tidak terlalu menghabiskan banyak tempat.
Nira lontar dapat diolah menjadi beberapa produk turunan seperti gula dan tuak (alkohol). Gula lontar memiliki citarasa yang berbeda jika dibandingkan dengan gula tebu, gula aren atau gula kelapa dengan rasa legit dan sedikit masam. Untuk menghasilkan 1 kg gula lontar seharga Rp5.000, dibutuhkan air nira sebanyak 6-7 liter dengan waktu olah 3-4 jam. Kurang menguntungkan jika dibandingkan menjual langsung dalam bentuk nira segar atau legen.
Potensi lain yang masih bisa dimanfaatkan adalah daun lontarnya dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan atau souvenir. Para pengrajin biasa membeli dengan harga Rp1.200 tiap setengah pelepah. Dalam 1 tangkai pelepah hanya setengah sisi saja yang dapat dimanfaatkan karena sisi yang lain tertekuk.
Buah lontar yang masih muda dapat dijual sebagai buah segar dengan harga Rp500 per buah. Dalam 1 buah terdapat 3 biji (tempurung) dimana didalamnya berisi daging buah berwarna putih segar dengan tekstur lembut dan sedikit kenyal seperti kelapa muda atau aren. Beberapa asam amino yang terkandung di dalamnya antara lain alanin, serin, arginin dan glutamin.
Sedangkan buah yang tua, atau sering disebut keling, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal seperti jenis-jenis palem yang lain seperti kelapa sawit atau kelapa, daging buahnya dapat diolah menjadi minyak goreng. Tandan bunganya bahkan dapat digunakan sebagai obat pegal linu. Selain itu masih banyak kegunaan tanaman yang di India disebut pohon dengan 800 manfaat ini.
Secara agronomi, budidaya lontar tidaklah terlalu sulit. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah kering berpasir hingga ketinggian 800 m diatas permukaan laut bahkan di kawasan-kawasan dimana jenis palem produktif lain seperti aren atau kelapa tidak mampu berkompetisi. Jenis dengan nama latin Borassus flabellifer ini juga sangat mudah beradaptasi, tahan terhadap kekeringan dan mampu bertahan dengan curah hujan 500-900 mm per tahun.
Perbanyakan umumnya menggunakan biji dengan cara langsung meletakkannya ke tanah tanpa menyemainya terlebih dahulu. Bibit lontar amat sensitif karena memindahkan pada saat telah menjadi semai (tanaman muda) sangatlah sulit dan rawan mati. Lontar akan mulai berbunga dan berbuah pada umur 12-20 tahun, biasanya pada musim kemarau. Untuk menyadap nira, tangkai bunga disayat tipis melintang, lalu diletakkan bumbung pada ujung sayatan untuk menampung cairan nira yang menetes. Sebelumnya, bumbung harus sibersihkan dengan air panas, dibubuhi kapur halus (enjet) dan dipasangi laru (semacam serambut) untuk menyaring tetesan nira.
Meskipun lontar memiliki beragam potensi yang sedemikian besar, hal tersebut tidak serta merta membuat masyarakat tertarik untuk membudidayakannya. Khusus di Kabupaten Tuban yang merupakan kawasan dengan populasi lontar terbesar di Pulau Jawa, keberadaan tanaman ini perlu mendapat perhatian khusus. Banyak pohon lontar produktif yang ditebangi, sedangkan tanaman mudanya tidak terpelihara dan bahkan cenderung dimatikan oleh masyarakat setempat. Keadaan ini mengakibatkan jumlah populasinya turun drastis sehingga dikhawatirkan akan mengalami pelangkaan. Padahal dahulu, Indonesia dengan kerajaan Majapahitnya pernah tercatat sebagai negara pengekspor daun lontar terbesar di dunia.
Permasalahan yang terjadi adalah mulai bergesernya nilai-nilai sosial terutama di kalangan anak-anak muda. Generasi muda di sana mulai enggan memanjat pohon lontar karena pekerjaan tersebut harus berkotor-kotor sehingga dianggap tidak memiliki gengsi. Para pemuda lebih memilih merantau ke kota besar atau menjadi TKI ke luar negeri meskipun pekerjaan yang dijalani umumnya adalah buruh kasar. Pekerjaan menyadap nira saat ini hanya dilakukan oleh generasi tua yang berusia di atas 40 tahun, padahal dahulu hampir seluruh penduduk Tuban mampu dan mau memanjat karena kebanyakan hidup mereka ditopang oleh hasil pohon lontar. (S. Budiharta)
Artikel lama yang pernah diposting pada Jumat, 9 Juni 2006)
Sumber : UPT BKTKR Purwodadi (http://www.krpurwodadi.lipi.go.id)
Oleh : S. Budiharta
Pernahkah suatu ketika anda melintas di kota Tuban dan beristirahat sejenak lalu mencoba mencicipi minuman khas sana yang sering disebut legen atau nira lontar? Saran saya, berhati-hatilah, karena alih-alih ingin meneguk segarnya air nira, salah-salah anda malah sakit perut atau menjadi batuk karena gatalnya kerongkongan anda. Jika anda ingin menikmati minuman tersebut dengan aman dan nikmat, cobalah masuk ke pelosok-pelosok kampung dan carilah penyadap yang baru menurunkan bumbung air nira dari pohon lontar.
Beberapa oknum pedagang seringkali mencampur nira lontar dengan air-biasanya menggunakan air mentah-dengan konsentrasi hingga 5:100. Artinya dalam 100 liter ‘nira’ yang dijual, hanya terdapat 5 liter nira asli yang benar-benar disadap dari pohon lontar. Memang, selain lebih murah, nira tersebut menjadi tidak lekas basi sehingga dapat disimpan berhari-hari. Padahal nira asli tidak akan bertahan lebih dari 10 jam, karena bila lewat dari tempo tersebut, air nira akan berbusa, berasa masam dan mengeluarkan bau yang bisa-bisa membuat anda muntah.
Sebenarnya, tanpa mencampur dengan air, nira memberikan keuntungan ekonomi sangat menggiurkan. Sebatang pohon lontar produktif yang terpelihara dengan baik, dapat menghasilkan 3-5 liter air nira sehari, dipanen 2 kali pagi dan sore. Dengan harga per liter di tingkat penyadap Rp1.000-harga yang lebih murah dibanding air mineral dalam kemasan- satu pohon dapat menghasilkan Rp3.000-Rp5.000 per hari.
Seorang petani kecil yang hanya mempunyai 20 pohon lontar saja, dengan tanaman produktif 12 pohon, maka dalam sehari dia mampu menangguk penghasilan hingga Rp36.000-Rp60.000 sehari dengan jam kerja kurang dari 4 jam. Bila dia menyadap kepunyaaan orang lain, maka bagi hasil yang umum disepakati adalah 6:1 dengan penyadap mendapat porsi yang lebih besar. Disela-sela waktu sadapnya, penyadap dapat melakukan pekerjaan lain seperti berkebun, mengolah sawah dan lain-lain sehingga mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Angka tersebut barulah hitungan kasar, yang tidak memasukkan nilai tanaman lain seperti padi, palawija atau buah-buahan, karena tanaman lontar umumnya dibudidayakan secara tumpangsari sehingga sangat sesuai untuk pengembangan sistem agroforestry. Pohon lontar dapat ditanam di pinggir-pingir sawah atau sering disebut galengan dengan jarak tanam optimum 5 meter. Keunggulan jenis ini dibanding dengan tanaman lain semisal kelapa adalah akarnya yang sempit dengan sedikit serabut sehingga tidak terlalu menghabiskan banyak tempat.
Nira lontar dapat diolah menjadi beberapa produk turunan seperti gula dan tuak (alkohol). Gula lontar memiliki citarasa yang berbeda jika dibandingkan dengan gula tebu, gula aren atau gula kelapa dengan rasa legit dan sedikit masam. Untuk menghasilkan 1 kg gula lontar seharga Rp5.000, dibutuhkan air nira sebanyak 6-7 liter dengan waktu olah 3-4 jam. Kurang menguntungkan jika dibandingkan menjual langsung dalam bentuk nira segar atau legen.
Potensi lain yang masih bisa dimanfaatkan adalah daun lontarnya dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan atau souvenir. Para pengrajin biasa membeli dengan harga Rp1.200 tiap setengah pelepah. Dalam 1 tangkai pelepah hanya setengah sisi saja yang dapat dimanfaatkan karena sisi yang lain tertekuk.
Buah lontar yang masih muda dapat dijual sebagai buah segar dengan harga Rp500 per buah. Dalam 1 buah terdapat 3 biji (tempurung) dimana didalamnya berisi daging buah berwarna putih segar dengan tekstur lembut dan sedikit kenyal seperti kelapa muda atau aren. Beberapa asam amino yang terkandung di dalamnya antara lain alanin, serin, arginin dan glutamin.
Sedangkan buah yang tua, atau sering disebut keling, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal seperti jenis-jenis palem yang lain seperti kelapa sawit atau kelapa, daging buahnya dapat diolah menjadi minyak goreng. Tandan bunganya bahkan dapat digunakan sebagai obat pegal linu. Selain itu masih banyak kegunaan tanaman yang di India disebut pohon dengan 800 manfaat ini.
Secara agronomi, budidaya lontar tidaklah terlalu sulit. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah kering berpasir hingga ketinggian 800 m diatas permukaan laut bahkan di kawasan-kawasan dimana jenis palem produktif lain seperti aren atau kelapa tidak mampu berkompetisi. Jenis dengan nama latin Borassus flabellifer ini juga sangat mudah beradaptasi, tahan terhadap kekeringan dan mampu bertahan dengan curah hujan 500-900 mm per tahun.
Perbanyakan umumnya menggunakan biji dengan cara langsung meletakkannya ke tanah tanpa menyemainya terlebih dahulu. Bibit lontar amat sensitif karena memindahkan pada saat telah menjadi semai (tanaman muda) sangatlah sulit dan rawan mati. Lontar akan mulai berbunga dan berbuah pada umur 12-20 tahun, biasanya pada musim kemarau. Untuk menyadap nira, tangkai bunga disayat tipis melintang, lalu diletakkan bumbung pada ujung sayatan untuk menampung cairan nira yang menetes. Sebelumnya, bumbung harus sibersihkan dengan air panas, dibubuhi kapur halus (enjet) dan dipasangi laru (semacam serambut) untuk menyaring tetesan nira.
Meskipun lontar memiliki beragam potensi yang sedemikian besar, hal tersebut tidak serta merta membuat masyarakat tertarik untuk membudidayakannya. Khusus di Kabupaten Tuban yang merupakan kawasan dengan populasi lontar terbesar di Pulau Jawa, keberadaan tanaman ini perlu mendapat perhatian khusus. Banyak pohon lontar produktif yang ditebangi, sedangkan tanaman mudanya tidak terpelihara dan bahkan cenderung dimatikan oleh masyarakat setempat. Keadaan ini mengakibatkan jumlah populasinya turun drastis sehingga dikhawatirkan akan mengalami pelangkaan. Padahal dahulu, Indonesia dengan kerajaan Majapahitnya pernah tercatat sebagai negara pengekspor daun lontar terbesar di dunia.
Permasalahan yang terjadi adalah mulai bergesernya nilai-nilai sosial terutama di kalangan anak-anak muda. Generasi muda di sana mulai enggan memanjat pohon lontar karena pekerjaan tersebut harus berkotor-kotor sehingga dianggap tidak memiliki gengsi. Para pemuda lebih memilih merantau ke kota besar atau menjadi TKI ke luar negeri meskipun pekerjaan yang dijalani umumnya adalah buruh kasar. Pekerjaan menyadap nira saat ini hanya dilakukan oleh generasi tua yang berusia di atas 40 tahun, padahal dahulu hampir seluruh penduduk Tuban mampu dan mau memanjat karena kebanyakan hidup mereka ditopang oleh hasil pohon lontar. (S. Budiharta)
Artikel lama yang pernah diposting pada Jumat, 9 Juni 2006)
Sumber : UPT BKTKR Purwodadi (http://www.krpurwodadi.lipi.go.id)
Selasa, 06 Oktober 2009
Gula Lempeng dari Nusa Lontar
Sumber : http://blog.reynoldsumayku.com/?p=1102







Gula Lempeng dari Nusa Lontar
Andreas Mooy mengaku lupa berapa umurnya secara persis. Ia hanya memberi ancar-ancar di atas 70 tahun. Wajahnya memang dipenuhi keriput. Tetapi rekan saya om Yeremi berbisik kepada saya, mungkin Pak Andreas salah hitung umur. Buktinya, Andreas berkali-kali memanjat pohon lontar pagi itu dengan kecekatan yang sangat mencengangkan untuk ukuran lelaki berumur 70-an. Otot-ototnya tampak sungguh liat.
Kami sedang mengunjungi kebun dekat kediaman Andreas dan istrinya yang keempat, Yunce Unbanu (asal Timor), di Desa Oehandi, Pulau Rote. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana air dari pohon lontar diproses menjadi gula berbentuk lempengan-lempengan kecil. Dengan latar belakang suara tawa anak-anak yang sedang bermain, Andreas yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu sedang menunjukkannya.
Dengan bantuan Om Yeremi sebagai penerjemah, gambaran tentang gula lempeng saya dapatkan. Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.
Jika Andreas bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, Yunce bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka membuat minimal 150 lempengan gula.
Waktu memotretnya hanya sekitar dua jam lebih sedikit. Saya jauh dari kata puas dengan hasilnya. Tetapi setidaknya, setelah yang satu ini saya merasa lega karena target dari perjalanan ke Rote cukup terpenuhi.
Keterangan Foto :
(1) Om Yeremi Pah (jaket merah) di bawah pohon-pohon lontar dekat Danau Tua. Di Rote, ada satu jenis pohon lagi yang mirip lontar yakni pohon gewang. “Tetapi gewang tidak begitu banyak kegunaannya dibanding lontar,” katanya.
(2) Andreas Mooy di atas pohon lontar.
(3) Wadah yang digunakan terbuat dari daun lontar pula. Ini Pak Andreas Mooy dari dekat. Anda percaya ia berumur 70-an tahun? Saya percaya.
(4) Yunce Unbanu tengah mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat.
(5) Gula lempeng yang masih cair dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang dibuat dari daun lontar juga. Kemudian didinginkan.
(6) Sudah mulai mengering.



Gula Lempeng dari Nusa Lontar
Andreas Mooy mengaku lupa berapa umurnya secara persis. Ia hanya memberi ancar-ancar di atas 70 tahun. Wajahnya memang dipenuhi keriput. Tetapi rekan saya om Yeremi berbisik kepada saya, mungkin Pak Andreas salah hitung umur. Buktinya, Andreas berkali-kali memanjat pohon lontar pagi itu dengan kecekatan yang sangat mencengangkan untuk ukuran lelaki berumur 70-an. Otot-ototnya tampak sungguh liat.
Kami sedang mengunjungi kebun dekat kediaman Andreas dan istrinya yang keempat, Yunce Unbanu (asal Timor), di Desa Oehandi, Pulau Rote. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana air dari pohon lontar diproses menjadi gula berbentuk lempengan-lempengan kecil. Dengan latar belakang suara tawa anak-anak yang sedang bermain, Andreas yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu sedang menunjukkannya.
Dengan bantuan Om Yeremi sebagai penerjemah, gambaran tentang gula lempeng saya dapatkan. Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.
Jika Andreas bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, Yunce bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka membuat minimal 150 lempengan gula.
Waktu memotretnya hanya sekitar dua jam lebih sedikit. Saya jauh dari kata puas dengan hasilnya. Tetapi setidaknya, setelah yang satu ini saya merasa lega karena target dari perjalanan ke Rote cukup terpenuhi.
Keterangan Foto :
(1) Om Yeremi Pah (jaket merah) di bawah pohon-pohon lontar dekat Danau Tua. Di Rote, ada satu jenis pohon lagi yang mirip lontar yakni pohon gewang. “Tetapi gewang tidak begitu banyak kegunaannya dibanding lontar,” katanya.
(2) Andreas Mooy di atas pohon lontar.
(3) Wadah yang digunakan terbuat dari daun lontar pula. Ini Pak Andreas Mooy dari dekat. Anda percaya ia berumur 70-an tahun? Saya percaya.
(4) Yunce Unbanu tengah mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat.
(5) Gula lempeng yang masih cair dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang dibuat dari daun lontar juga. Kemudian didinginkan.
(6) Sudah mulai mengering.

Lontar si Pohon Gula
Mungkin belum banyak yang tahu, pohon lontar telah memberikan kehidupan bagi orang Rote dan Sabu. Gula nira hasil penyadapan selain bernilai ekonomis, juga merupakan makanan pokok mereka. Lontar juga tumbuhan serbaguna dan jadi sumber penghidupan utama di ke dua pulau yang beriklim kering itu. Batangnya dibuat bahan papan, pelepahnya dibuat dinding rumah dan kayu bakar, daun untuk atap, dan perdagangan gula nira hingga ke luar pulau telah terbukti mampu membiayai sekolah anak-anak di Rote dan Sabu.
Lontar [ Borassus sundaicus Beccari] adalah tanaman penghasil gula paling efisien di dunia. Lontar termasuk tanaman berkelamin ganda. Mayang jantan muncul dari pucuk lontar berupa tunas-tunas bercabang tajam berpasangan. Mayang betina menghasilkan tandan-tandan berisi buah. Buah lontar di luar Rote dan Sabu dikenal dengan nama siwalan, terutama di Jawa. Di Jawa, buah lontar lebih banyak di panen dibandingkan disadap niranya. Sebaliknya buah siwalan jarang ditemui di Rote dan Sabu akibat penyadapan nira yang memotong mayang jantan sehingga tidak menghasilkan buah.
Buah lontar atau siwalan termasuk sulit didapat di Indonesia, kalaupun ada tidak dijajakan secara khusus seperti pada musim buah durian atau rambutan. Buahnya kenyal dan manis hampir seperti kolang-kaling. Di Jakarta setahu penulis siwalan dijajakan di daerah Pasar Baru dan Ancol. Di pasar-pasar tradisional di Jakarta sulit dijumpai penjaja siwalan, terlebih lagi di supermarket. Sebaliknya, kabar dari seorang teman, Thailand malah sudah mengalengkan siwalan sebagai komoditi ekspornya.
Pohon lontar disebut Due dalam bahasa Sabu, buah mudanya disebut Wohiru, dan buah yang telah tua disebut Wokeli. Pengambilan nira adalah proses memotong untaian bunga jantan setahap demi setahap setiap hari. Dalam dua bulan dapat dihasilkan nira sebanyak 3-5 liter, bahkan seorang yang ahli memanen dapat menghasilkan 10 liter perpohon. Penyadap nira yang terampil dapat menyadap dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa ia harus turun dari pohon.
Menurut penelitian James Fox, praktek pengambilan Nira di Rote menghasilkan jumlah nira yang beragam selama satu musim. Namun jumlah nira sangat ditentukan oleh jumlah mayang yang disadap. Sebatang lontar dengan lima mayang mampu menghasilkan 6,7 liter nira sehari atau 47 liter seminggu. Diakhir masa penyadapan sebatang pohon lontar dengan satu mayang masih dapat menghasilkan nira 2,25 liter perhari atau 15 liter seminggu.
Hasil gula nira di Sabu disebut Donahu, sedangkan setelah dimasak hingga menjadi gula padat disebut Domegeru. Cara masak nira orang Sabu dan Rote tidaklah sama. Orang Sabu memasak lebih lama, sehingga gula menjadi lebih hitam dan kental, sedangkan orang Rote memasak nira dengan perubahan hanya 15% saja.
Perbanyakan pohon lontar kebanyakan terjadi secara alami. Biji yang tua dibiarkan di sekitar pohon, lalu terbawa aliran air ketika hujan, atau dibawa hewan liar, dan tumbuh pada tempat-tempat di sekitar kebun. Adapula orang mengambil bibit itu lalu menanamnya ditempat yang ia kehendaki. Pada usia 5 tahun lontar baru siap di panen. Umur pohon lontar sangat panjang. Seorang Sabu yang saya temui, Matheus Liwerohi, mengatakan bahwa ia mewarisi kebun lontar yang telah berusia tiga generasi sejak jaman kakeknya, dan hingga kini masih diambil niranya.
Gula nira kental merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi orang Sabu dan Rote. Jagung atau rebusan daun singkong atau sayur-sayuran lainnya cukup “dicolek” seperti makan lalap dan sambal. Minumnya pun air nira. “Badan jadi sehat dan bertenaga”, kata Matheus menyakinkan saya.
Selain diolah sebagai gula padat, nira juga dibuat minuman tuak atau disebut sopie. Nira dicampur air dan bahan-bahan akar tumbuhan tertentu direndam satu malam dan ditutup rapat agar terjadi fermentasi. Kemudian hasilnya disuling [direbus dalam nyala api kecil dan uapnya dialirkan melalui pipa dan ditampung].
Cuka nira juga dibuat orang Sabu dan Rote. Cara membuatnya lebih mudah lagi. Cukup masukan nira dalam wadah semacam jerigen dan ditutup rapat hingga satu bulan. Cuka nira ini merupakan bumbu yang sedap untuk memasak. Ikan sebelum digoreng cukup dicelup nira. Cuka nira hanya dibuat untuk keperluan memasak keluarga, karena waktu pembuatan yang cukup lama tidak segera menghasilkan uang, bila dibandingkan dengan memproduksi air nira atau gula.
Begitu cintanya orang Sabu pada Lontar, hingga Matheus yang telah merantau puluhan tahun di Kupang, selalu teringat syair dari kampung halamannya “ Bole belo raidi raihu, Rai due nga donahu” yang artinya kurang lebih “jangan lupa tanah air tanah Sabu yaitu tanah nira dan gula”.[*]
Sumber : http://riobunet.blogspot.com/
Langganan:
Entri (Atom)


